All about Mee in P

Monday, March 19, 2007

Langit pun Masih Biru

Ini adalah sambungan dari cerpenku yg berjudul "Selamat Datang Cinta"

Hari terakhir di tahun 2006. Aku melewatkan pergantian tahun kali ini di pinggiran kota Tokyo. Aku homestay selama seminggu di rumah kenalanku. Karena masih termasuk wilayah Tokyo aku piker di sini lebih hangat daripada Matsumoto sehingga aku tidak membawa baju super tebal. Alhasil aku kedinginan karena meskipun masih masuk wilayah Tokyo, Hachioji, kota tempat kenalanku tinggal, terletak di wilayah perbukitan. Dinginnya udara di sini tak kalah dengan dinginnya Matsumoto.

Sebenarnya aku ingin melewatkan pergantian tahun bersama Taki. Tapi dia mudik selama liburan musim dingin. Orang-orang Jepang merayakan pergantian tahun bersama keluarga mereka, seperti umat Islam di Indonesia merayakan Hari Raya Idul Fitri. Sama seperti di Indonesia, saat arus mudik dan arus balik, angkutan kendaraan umum di Jepang kebajiran penumpang dan jalan raya dipenuhi para pemudik. Hanya saja karena kendaraan umum di Jepang sangan tepat waktu maka hampir tidak ada penumpang yang terlantar. Kecuali jika ada gangguan cuaca seperti hujan lebat, hujan salju ataupun angin kencang.

Kebanyakan warga Jepang menggunakan ‘Shinkansen’, kereta api super ekpres yang senyaman pesawat terbang. Bahkan shinkansen lebih cepat daripada pesawat. Shinkansen mempunyai rel tersendiri sehingga tidak mengganggu jadwal kereta yang lain. Selain itu rel shinkansen dibuat khusus supaya tidak melengkung dan shinkansen tidak melayang saat melewatinya, mengingat kecepatan shinkansen lebih dari 200km/ jam. Shinkansen terbaru malah kecepatannya sekitar 300km/ jam.

Aku berangkat naik mobil kenalanku ke Hachioji. Dia menjemputku karena dia dan keluarganya memang rencananya pulang dari ski di daerah dekat Matsumoto. Karena melewati tempatku, mereka mengajakku pergi bersama. Lumayan aku tidak perlu keluar ongkos bis untuk berangkat. Perjalanan Matsumoto – Hachioji lancar tanpa hambatan karena dilakukan pada malam hari dan melawan arus mudik.

Ini adalah hari ketiga aku di Hachioji. Seharian tadi aku diajak host family berjalan-jalan ke berbagai kuil. Pada akhir tahun banyak juga orang yang ke kuil melakukan doa terakhir di tahun tersebut. Kemudian pada malam hari mereka makan toshikoshi soba, mi soba yang dimakan pada malam pergantian tahun, bersama keluarga sambil menonton acara ‘Kohaku uta gassen’ di stasiun TV NHK. Pada acara ini, para penyanyi Jepang dibagi menjadi 2 grup yaitu merah yang beranggotakan penyanyi wanita dan putih yang terdiri dari penyanyi pria. Anggota kedua grup secara bergantian menyanyi dari jam 10 sampai jam 12 kurang. Menjelang detik-detik pergantian tahun, diumumkan grup pemenang, yaitu grup yang paling disukai oleh pemirsa. Aku juga melakukan ritual ini bersama host family-ku.

Kohaku Uta Gassen ini menurut kenalanku, ditonton oleh seluruh keluarga Jepang. Tapi ketika aku tanyakan kepada Taki, dia menentang dengan penuh semangat. “Nggak bener itu! Aku dan keluargaku malah gak pernah nonton acara itu.” Aku tersenyum mengingat perkataannya. Dia itu Japanese tapi sama sekali tidak berjiwa Jepang. Pasti malam ini pun dia tidak sedang menonton Kohaku Uta Gassen. Dia sedang apa ya? Aku tidak bisa berhenti memikirkannya hingga tidak berkonsentrasi menonton TV. Berulang kali aku ke toilet hanya untuk mendapatkan sinyal supaya aku bisa ber-sms dengan Taki.

Meskipun berada di daerah tinggi aku tidak bisa mendapatkan sinyal pada malam hari padahal pada siang hari HP-ku tidak bermasalah. Ini karena adanya amado yang dipasang di sekeliling rumah. Amado adalah semacam jendela pengaman yang dipasang di luar jendela kaca. Jendela ini terbuat dari sejenis logam untuk mengamankan jendela kaca dari hujan, angin, maupun salju. Juga sebagai pengaman supaya pencuri tidak bisa masuk. Pada musim dingin amado berfungsi mencegah masuknya angin dingin ke dalam rumah. Di rumah kenalanku ini pun semua jendela kamar dipasangi amado. Hanya kamar mandi dan toilet yang tidak ber-amado.

Tahun berganti tetap dalam suasana dingin. Tanggal 1 Januari, aku dan host family-ku pergi ke kuil untuk melakukan hatsumode, kunjungan ke kuil untuk pertama kalinya di tahun baru. Istri kenalanku meminjamkan kimononya kepadaku sehingga aku berkimono pergi ke kuil. Sama sekali tidak nyaman memakai kimono pada musim dingin. Karena meskipun kimono yang aku pakai adalah kimono khusus musim dingin, tapi dinginnya udara masih kurasakan sampai ke tulang. Dan kami mengunjungi kuil yang lumayan jauh dari rumah. Berkimono aku harus berjalan menuju halte kemudian naik bis sampai stasiun lalu naik kereta selama kira-kira 5 menit untuk sampai ke stasiun terdekat dari kuil.

Aku tidak mengerti kenapa kami harus melakukan hatsumode di kuil yang jauh dari rumah. Katanya kami akan ke kuil yang lumayan terkenal. Bagiku kuil Shinto semua sama. Besar, kecil, terkenal atau tidak bagiku tidak masalah. Aku ikuti saja kemauan keluarga homestay-ku. Mereka pasti ingin menunjukkan keistimewaan perayaan tahun baru di Jepang. Aku berusaha terus bertahan di tengah banyaknya orang yang menuju kuil. Kami bergandengan tangan supaya tidak terpisah karena semua orang bergerak dan kami tidak bisa berhenti sama sekali. Selama mereka berdoa aku memotret apapun yang bisa potret. Kerumunan orang yang berjubel berebut untuk berdoa, pagoda di kuil yang dikelilingi manusia, juga petugas di kuil yang bersusah payah mengatur supaya semua orang bisa berdoa. Fuih…kumpulan manusia yang membuat pusing tapi juga menarik. Pengalaman yang tidak bisa aku dapatkan di Indonesia.

Tetapi terus terang aku tak begitu menikmati homestay-ku karena aku selalu memikirkan Taki. Seminggu itu aku merasa berbulan-bulan tidak bertemu dengannya. Meski kami tetap berhubungan melalui email ataupun telepon tapi aku tetap ingin bertemu dengannya setiap saat. Ah… mengapa aku jadi begitu manja. Diriku yang penyendiri telah hilang entah ke mana. Yang ada sekarang adalah diriku yang mempunyai penyakit ketergantungan terhadap Taki. Semoga dia tidak merasa terganggu.


===

Aku kembali ke Matsumoto lebih dulu daripada Taki. Libur pergantian tahun memang masih tersisa beberapa hari sehingga Taki masih berada di kampung halamannya. Aku kembali karena program homestay sudah selesai dan aku perlu mempersiapkan diri untuk menghadapi pelajaran di kampus setelah libur yang lumayan panjang ini. Ah…Taki masih akan kembali ke sini 3 hari lagi. Masih lama. Pikiranku kembali melayang kepadanya setiap kali aku tidak melakukan suatu aktivitas. Karena itu aku terus menyibukkan diri dengan membersihkan dan membenahi kamar dan belajar. Aku juga membersihkan apartemen Taki karena dia meminjamiku kunci kamarnya. Pokoknya segala macam hal kulakukan supaya aku tidak duduk menghitung hari menunggu kepulangan Taki.

9 Januari malam, kira-kira jam 9 Taki menelpon. Dia sudah berada di Matsumoto. Sekarang sedang dalam perjalanan menuju apartemennya. Loh bukannya dia baru akan kembali besok? “Aku kembali sehari lebih awal. Kamu datang ke apartemenku sekarang ya?” katanya sebelum mengakhiri pembicaraan. Sebenarnya aku takut mengganggunya karena dia baru datang dan pasti perlu istirahat. Tapi kerinduanku padanya mengalahkan keraguanku. Dengan membawa makanan yang kumasak tadi sore, (aku tidak menyiapkan masakan khusus karena tidak menyangka dia akan kembali hari ini) aku segera berangkat ke apertemennya. Ternyata Taki juga baru sampai ketika aku tiba di sana.

Sambil makan masakanku (beruntung aku membawanya karena ternyata Taki kelaparan berat katanya), kami mengobrol soal liburan.
“Emi tidak berubah ya.” kata Taki sambil memandangiku. Aku menjadi sangat malu bila dia memandangiku seperti itu.
“Kamu juga. Selama liburan kamu ngapain aja?” tanyaku mengalihkan perhatian.
“Aku berkeliling ke rumah saudara-saudaraku. Aku juga ke rumah nenekku. Aku pernah cerita kan, kalau aku masih punya nenek dari ibuku?” celotehnya seperti biasa dengan berapi-api penuh semangat. Kadang aku heran dari mana dia mendapatkan semangat itu ya? Kenapa dia seakan tidak pernah lelah. Selalu bersemangat. Dan satu lagi, selalu tersenyum. Seakan dia tidak mempunyai beban atau kesedihan. “Nenek senang sekali aku mengunjunginya. Dia juga memberiku otoshidama (angapao tahun baru) karena aku diterima di Kobe University. Dia memberiku 50 ribu loh! Banyak kan? Sebenarnya aku malu menerimanya karena aku sudah besar tapi nenek memaksa jadi ya kuterima saja, hehehe…”

Aku melongo mendengar penjelasan Taki. Kobe University? Kenapa Kobe University? Bukankah dia sekarang kuliah di Shinshu University? Sama seperti aku? Lalu apa maksudnya ucapannya tentang Kobe University?
Kobe University?” tanyaku hati-hati sekali. Taki seakan baru menyadari ucapannya. Dia meletakkan kembali makanan yang siap dimasukkannya ke mulut. Air mukanya berubah seperti orang yang menyesal.
“Maafkan aku Emi. Aku tidak menceritakan hal ini kepadamu.” Aku merubah posisi dudukku sehingga terlihat serius mendengarkan perkataannya. Kemudian Taki melanjutkan “Sebenarnya sejak dulu aku ingin masuk Kobe University. Tapi aku gagal dalam ujian masuk dan diterima di sini. Tapi aku tidak pernah berhenti berusaha supaya bisa masuk ke sana. Jadi pertengahan semester lalu aku mencoba ujian untuk mahasiswa transfer dan aku berhasil. Jadi Maret nanti aku akan pindah ke Kobe mulai April aku menjadi mahasiswa Kobe University.”

Mendengar penjelasannya leherku terasa tersekat. Makanan yang tadi kutelan seakan menyumbat kerongkonganku. Cepat-cepat aku ambil gelasku dan menghabiskan namacha (jenis teh Jepang) yang tersisa.

“Tapi kan kamu masih tingkat satu? Seharusnya mahasiswa tingkat 2 yang bisa ikut ujian transfer itu kan?”tanyaku dengan takut-takut dan penuh kebingungan. Aku sangat takut menghadapi kenyataan ini. Bagaimana mungkin aku harus berjauhan dengan Taki Maret nanti. Memang sih bagaimanapun juga kami akan berjauhan jika aku kembali ke Indonesia. Tapi itu kan nanti, September nanti. Masih 9 bulan lagi. Saat itu pasti aku sudah siap terpisah jarak dan waktu dengan Taki. Tapi Maret? Ya Tuhan, aku benar-benar berharap ini hanyalah mimpi. Aku takut mengetahui kenyataan ini. Semoga ini hanyalah April fool yang dimajukan 3 bulan lebih awal.

“Maafkan aku Emi, aku berbohong kepadamu. Sebenarnya aku sudah tingkat 2 saat ini. Jadi aku bisa mengkuti ujian itu. Aku minta maaf yang sedalam-dalamnya karena telah membohongimu”
Kembali aku memandangnya tidak percaya. Kalau benar dia bohong berarti dia patut mendapat piala Oskar atas aktingnya yang sempurna. Aktingnya menikmati musim dingin di Matsumoto seakan itu adalah musim dingin pertama yang dia alami di sini. Aktingnya ketika bermain lempar bola salju. Dan semua itu hanya akting? Semuanya bohong?

Tiba-tiba aku membeci diriku sampai ke ubun-ubun. Aku merasa bodoh telah mempercayai begitu saja ucapan orang yang baru aku kenal. Aku bahkan tidak pernah mencari tahu apakah ucapan orang itu benar atau palsu belaka. Aku benci diriku. Aku ingin menangis. Tapi aku tidak mau menangis di depan Taki lagi. Aku bertekat tidak akan menangis lagi di depannya.

Perlahan aku mencari tasku lalu segera berdiri setelah aku mendapatkannya. Tanpa berkata apapun aku menuju ke arah pintu. Aku harus keluar dari tempat ini pikirku. Aku ingin pergi sejauh-jauhnya dari sini. Aku tidak ingin melihat Taki lagi. Panggilan Taki tak kuhiraukan. Aku menyentakkan tangannya ketika dia berusaha menahanku. Gerimis di mataku hampir tak terbendung. Aku yakin gerimis itu akan menjadi hujan lebat jika aku berbicara meskipun hanya sepatah kata.

Tanpa tujuan kukayuh sepedaku sekuat tenaga. Dinginnya udara tak lagi kuperdulikan. Aku biarkan tanganku mengendalikan sepeda sesuka hatinya sementara mataku tak dapat lagi melihat. Bendungan di mataku telah penuh sehingga airnya meluber ke pipiku. Aku benar-benar tidak bisa melihat. Aku menangis sejadi-jadinya tanpa mengeluarkan suara.

Ketika aku mulai bisa menguasai keadaan aku menyadari bahwa aku berada di pintu gerbang taman Agata no Mori. Aku mengarahkan sepeda ke tempat ayunan yang biasa kukunjungi. Sepi. Tidak ada orang sama sekali. Dan gelap. Kenapa taman ini gelap sekali? Ayunan itu berdiri sendiri dan terlihat sangat kesepian. Aku duduk dan mulai berayun. Perlahan. Sangat perlahan. Kemudian bertambah kencang. Dan semakin kencang.

Tiba-tiba aku sadar bahwa aku berada di ayunan di tengah taman pada tengah malam. Taki menelpon menyuruhku ke rumahnya tadi pada sekitar jam 10. Jadi sekarang benar-benar tengah malam. Pantas saja semuanya gelap dan tak ada seorang pun yang kujumpai di jalanan.

Aku mulai mengurangi kecepatan ayunan sambil berusaha mengingat kejadian yang kualami sebelum aku sampai di taman ini. Mulai dari kepergianku ke apartemen Taki sampai penjelasan Taki tentang kebohongannya. Aku ingin marah kepada Taki tapi aku tak bisa sehingga amarahku beralih pada diriku sendiri. Aku marah karena aku telah memilih Taki sebagai orang yang istimewa bagiku. Aku marah dan kecewa karena memperbolehkan Taki menempati ruang di hatiku. Aku marah karena kebodohanku yang percaya begitu saja akan ucapan Taki.

Tak terasa air mataku kembali mengucur deras. Dan aku menggigil. Bukan karena dinginnya udara tapi karena menahan segala perasaan yang ada di hatiku. Aku berusaha keras mematikan hatiku supaya tak merasakan perihnya luka. Aku berusaha kembali menjadi aku yang dulu. Aku yang tak merasakan apa-apa. Aku yang tak perduli pada apapun. Aku pasti lebih bisa hidup jika aku mematikan syaraf-syaraf perasaanku.

Aku merasakan sesuatu yang hangat menyelimuti tubuhku. Taki telah menyelimutkan overcoat-ku yang kutinggalkan begitu saja di kamarnya ketika aku keluar tadi. Anehnya aku tidak merasa kedinginan tanpa jaket tebal itu. “Emi, pulang yuk. Lihat tanganmu sudah sangat pucat. Mukamu juga. Kamu harus segera menghangatkan diri. Kalau tidak kamu nanti sakit. Ya, pulang ya?” Bujuknya sambil memegang jariku yang telah kebas. Saat itu justru aku merasa kedinginan. Aku menurut saja ketika Taki memakaikan overcoat-ku dan membimbingku ke arah sepedaku yang aku parker sembarangan. Aku tidak melihat sepeda Taki.

“Tadi aku berlari mengejarmu. Aku tidak sempat mencari kunci sepeda. Aku mencemaskanmu Emi. Sekarang kamu aku bonceng ya?” Penjelasan Taki ketika aku memandangnya bingung.
“Tidak, aku jalan saja.”
“Kalau begitu biar aku bawa sepedamu. Di depan ada mesin penjual minuman. Kita cari minuman hangat di sana.”

Sepanjang perjalanan Taki tidak mengatakan sepatah katapun dan aku mensyukuri hal itu. Aku tidak yakin akan bisa terus tenang jika kembali berbicara dengannya. Dengan sebelah tangannya Taki mengendalikan sepeda sementara tangannya yang bebas menggenggam erat tanganku. Kami berhenti sebentar untuk membeli minuman kaleng dari mesin penjual otomatis di depan gerbang taman.

Taki terus menuntunku sampai aku memasuki kamar dormitoriku. Dia ikut masuk dan segera menyuruhku beristirahat. Dia menyalakan pemanas ruangan, melepas overcoat-ku kemudian menyelimutiku di tempat tidur. Dia mengelus-elus rambutku seperti sedang menidurkan anak kecil. Entah kenapa aku diam menuruti semua perintahnya. Aku tidak melawan sama sekali. Aku terlalu sibuk mematikan syarafku sehingga tidak sempat memikirkan hal lain. Entah berapa lama Taki mengelus kepalaku hingga aku benar-benar tertidur.

===

Keesokan paginya ketika aku terbangun, Taki sudah tidak ada di kamarku. Hanya sepucuk memo kutemukan di atas meja. “Pagi Emi! Aku sudah buatkan sarapan untukmu. Makan ya! Kunci kamarmu aku bawa 1. Taki”

Di meja dapur aku temukan cah sayur kesukaanku dan telur mata sapi. Dan di rice cooker ada nasi yang telah siap disantap. Aku sama sekali tidak merasa lapar tapi untuk menghargai Taki aku memakan semua yang telah dia siapkan. Rasanya lumayan, bahkan bisa dibilang enak. Kaget juga aku mengetahui Taki bisa masak. Aku tersenyum sendiri membayangkan Taki sibuk memasak untukku.

Lalu seakan tersadar aku bertanya kepada diriku sendiri. Untuk apa Taki melakukan semua ini? Mengapa dia menghawatirkanku semalam jika dia tega berbohong kepadaku? Apakah dia juga menganggapku penting? Sebenarnya bagaimana perasaan Taki terhadapku?

Akhir Januari Taki berterus terang kepadaku. Tentang alasan dia berbohong kepadaku. Tentang perasaannya kepadaku. Dan tentang hubungan kami. Menurut penjelasannya, sebenarnya dia berbohong karena ingin mendekatiku. Dan ketika kami telah benar-benar dekat dia tidak tega mengatakan hal yang sesungguhnya karena tidak ingin mengecewakan aku. Dia juga menyayangiku tapi dia tidak bisa berhubungan serius denganku karena dia masih ingin belajar. Juga karena perbedaan-perbedaan yang ada di antara kami. Dia tidak mempunyai keberanian untuk melebur segala perbedaan itu. Dan inti dari semua penjelasannya yang panjang lebar adalah hubungan kami berakhir. Dia mengajakku untuk membina hubungan persahabatan.

Aku sudah siap menghadapi semua itu tapi tetap saja aku tak bisa menahan air mataku ketika mendengar keputusannya. Aku merasa aku belum sepenuhnya siap pulang pergi ke kampus tanpa dia. Dan pada kenyataannya aku tetap memposisikan Taki pada tempat yang istimewa di hatiku. Meski dia tidak mengatakan apapun tapi aku tahu dia bahagia karena aku tidak melupakannya begitu saja. Aku juga tahu bahwa dia masih menyayangiku. Aku yakin sampai kapanpun hubungan kami akan terus seperti ini.

===

Hari terus berganti hingga tiba bulan April yang merupakan awal tahun ajaran baru. Sakura masih belum mekar ketika para mahasiswa baru memadati kampus. Mereka memenuhi kantin, ruang kemahasiswaan, koperasi juga perpustakaan. Wajah-wajah mereka yang segar membuatku segera tahu bahwa mereka adalah mahasiswa baru. Mahasiswa tingkat 2 ke atas tidak sesegar mahasiswa baru dalam menyambut tahun ajaran baru.

Taki sudah pindah sebulan yang lalu. Aku membantunya sampai detik-detik terakhir. Dia meminjam sepedaku untuk megejar jam keberangkatan kereta. Dia juga menitipkan sampah pecahan kaca dan koran bekas karena tidak bisa membuangnya pada hari pembuangan. Padahal hari pembuangan sampah jenis itu telah lewat sehingga aku terpaksa menumpuk sampah itu sebulan untuk bisa membuangnya pada hari yang ditentukan. Dasar Taki! Merepotkan bahkan sampai detik terakhir kepindahannya.

Di Jepang memang system pembuangan sampahnya sangat rumit. Kita tidak bisa membuang sampah begitu saja. Sampah harus dipilah-pilah untuk dibuang pada hari-hari tertentu. Jika masih nekat membuang sampah bukan pada hari yang ditentukan maka jangan kaget jika sampah itu akan kembali ke depan kamar. Karena di plastik sampah, kita harus menuliskan nama kita. Jika kita membuang sampah berbeda pada hari yang telah ditentukan dan tanpa menuliskan nama, maka petugas sampah tidak akan mengambil sampah tersebut. Dan pasti ada orang yang marah-marah dan mencari pemilik sampah tersebut. Tapi semua tergantung dari peraturan di masing-masing daerah. Ada juga daerah yang tidak terlalu ketat peraturannya.

Seperti biasa aku masih suka menyendiri di teras dekat tangga lantai 2. Langit masih terlihat biru meski kadang berawan. Suatu hari pada pertengahan April yang cerah, aku duduk di kursi teras lantai 2 sambil membaca dan menikmati udara musim semi yang hangat. Sakura belum mekar di Matsumoto. Perkiraan cuaca meramalkan bahwa sakura akan mekar di Matsumoto pada akhir April. Memang suhu di sini belum cukup untuk memekarkan sakura.

Tiba-tiba seorang pemuda datang dan langsung menutup pintu teras. “Wah, dingin!” katanya sambil menggigil. Aku kaget bukan karena kedatangannya tapi karena gerakannya yang secara reflek menutup pintu. Aku segera mencari HP dan menghubungi tutorku. “Sayaka, tolong datang ke tangga lantai 2 sekarang. Tolong bukakan pintu teras ya. Cepat!” kataku setengah memerintah di telepon. Pemuda yang baru masuk tadi tampak terkejut mendengar kata-kataku. Dengan bingung dia bertanya “Kenapa anda meminta tolong teman anda untuk membukakan pintu ini?”

Aku tidak segera menjawab melainkan segera membereskan buku-bukuku. Ketika Sayaka datang dan membukakan pintu, aku berlalu ke arah pintu dan berkata kepada pemuda itu “Pintu ini tidak bisa dibuka dari teras, jadi jangan pernah menutupnya jika anda tidak ingin terkunci di sini.”

Kutinggalkan teras dan bersama Sayaka aku menuju ke perpustakaan. Hampir saja pengalamanku bersama Taki terulang kembali. Sepertinya aku harus mencari tempat lain untuk menyendiri. Aku tidak ingin kejadian itu terulang lagi.

Bunga ume di halaman perpustakaan telah mekar. Warnanya yang merah dan lebih gelap daripada sakura tampak indah dilatari langit biru yang cerah. Hari ini pun langit itu masih biru.

Selesai.

Terima kasih kepada teman-teman yang bersedia menunggu sambungan cerita “Selamat Datang Cinta”. Akhirnya selesai juga. Maaf telah membuat kalian semua menunggu lama. :)

Labels:

Friday, January 12, 2007

Hadiah yang tak tersampaikan

Panas! Sempit! Gelap!

Kenapa aku harus berada di sini? Apa yang dipikirkan tuanku ya? Dia sudah repot membungkusku sedemikian cantik, tapi akhirnya aku malah dihempaskan di sudut tempat tidur ini. Kenapa ya? Benar-benar tidak bisa dimengerti.

Ngomong-ngomong bukankah hari ini adalah hari Natal? Oh, iya! Seminggu yang lalu tuan bicara begitu kepadaku. Aku ingat waktu tuan membungkusku dengan rapi dia berkata “Seminggu lagi hari Natal lho. Saat itu kamu akan kuserahkan kepada tuanmu yang baru jadi jangan nakal ya!”

Seminggu telah berlalu dari waktu itu, berarti hari ini aku akan pergi ke tuanku yang baru. Senangnya! Seminggu ini aku tidak nakal jadi tuanku yang sekarang dan tuanku yang baru pasti akan senang.

Tapi, tapi, sekarang kan sudah malam. Kapan aku akan diserahkan kepada tuan baru? Tuanku juga tidak kelihatan. Sebenarnya ada apa sih? Tuan, kalau aku tidak segera kau serahkan kepada tuanku yang baru, Natal akan habis loh! Apakah itu bukan masalah?

Ah, itu tuanku! Tapi kok dia tampak lesu? Kenapa ya? Eh, dia melihat ke arahku! Lho! Mata tuanku kok merah? Tuan kenapa? Tuan menangis karena aku? Aku sama sekali tidak nakal kok. Aku terus menunggu di tempat yang gelap, sempit dan panas ini. Apakah tuan tetap marah kepadaku meski aku sudah tenang dan tidak nakal?

“Loh, kamu kenapa di pojokan begitu? Jangan-jangan aku tidak memperhatikanmu ya? Maaf ya…”

Tuanku ini memang baik. Jadi dia bukan dengan sengaja meletakkan aku di sudut tempat tidur kan?

“Eng… aku pernah mengatakan bahwa kamu hari ini akan kuserahkan kepada tuanmu yang baru kan? Sebenarnya aku akan menyerahkanmu hari ini. Tapi…tuanmu yang baru sangat sibuk dan tidak bisa datang ke tempat kita. Terus hari ini, tuanmu yang baru pergi ke kota lain untuk bekerja. Jadi hari ini aku tidak bisa menyerahkanmu. Maaf ya…. Aku benar-benar minta maaf. Aku pasti akan menyerahkanmu kepadanya, jadi kamu jangan nakal dan tetaplah menunggu seperti selama ini ya. Kamu tidak marah kan?”

Begitu ternyata. Karena itu tuanku tampak lesu hari ini. Rupanya karena aku tidak bisa bertemu dengan tuan baruku hari ini. Aku juga ingin segera bertemu dengan tuan baruku tapi tidak apa-apa meskipun hari ini aku akan bersama tuan. Tuan tadi mengatakan “pasti aku serahkan”, jadi aku akan menunggu dengan manis sampai saat itu tiba. Karena itu, tuan jangan menangis lagi. Tersenyumlah kembali. Kita harus percaya bahwa saat itu akan tiba.


Terjemahan dari “Watasenai purezento” tulisan Emmy Indah P

Labels:

Wednesday, December 13, 2006

Selamat Datang Cinta

Aku menaiki tangga sambil menahan dinginnya udara Desember. Kuliah hari ini telah usai tapi aku harus mengumpulkan tugas ke ruang profesorku sebelum jam 5 sore. Aku lirik jam tanganku. Ah, ternyata masih jam 14:35, masih jauh dari kata terlambat dari batas waktu mengumpulkan tugas.

Ruang pribadi profesorku ada di lantai 3. Lumayan sulit menuju ke sana pada jam seperti ini. Sekarang adalah jam istirahat 15 menit diantara perkuliahan yang digunakan sebagai waktu berpindah ruang kuliah. Tak heran jika banyak anak bergerombol turun-naik tangga. Mengingat gedung ini hanya terdiri dari 4 lantai dan lift yang ada sudah sangat tua sehingga lebih cepat menggunakan tangga dari pada lift.

Akhirnya sampai juga aku di depan ruang profesorku. Segera kumasukkan tugasku ke kotak yang telah disediakan. Aku lihat belum ada tugas dari mahasiswa lain. Ternyata aku yang paling rajin untuk minggu ini. Yes! teriakku senang dalam hati.

Urusanku di lantai 3 hanyalah mengumpulkan tugas. Maka setelah selesai aku bergegas berjalan ke arah tangga untuk turun lagi dan segera pulang. Tapi ternyata di tangga masih banyak mahasiswa bergerombol. Kebanyakan mahasiswa pria yang merokok sambil menunggu kuliah mulai. Di kampus ini memang tempat merokok dibatasi di tempat yang disediakan asbak dan tempat sampah khusus rokok. Biasanya tempat itu ada di ujung tangga atau di depan pintu masuk sebuah ruangan.

Aku turun perlahan ke lantai 2. Di ujung tangga lantai 2 ternyata sudah tidak ada mahasiswa yang merokok. Bahkan tak terlihat seorang pun di sini. Tak sengaja aku menoleh ke jendela. Beberapa pucuk pohon terlihat berjajar di langit biru yang cerah. Ah, langit di sini ternyata tidak jauh berbeda dengan langit di negaraku. Tapi ada sesuatu yang menggerakkan hatiku untuk mengamati lebih detail langit itu. Akhirnya aku membuka pintu ke teras yang ada di samping anak tangga teratas.

Angin dingin yang menyegarkan segera menerpa mukaku. Menurut ramalan cuaca yang kudengar di berita radio tadi pagi, hari ini diperkirakan cerah dengan suhu maksimal 5 derajat dan suhu minimal -2 derajat. Biasanya ramalan cuaca di negeri sakura ini tidak meleset. Aku rasa jam-jam sekarang adalah masa 'terhangat' untuk hari ini. Tapi karena aku berada di lantai 2 dengan angin yang lumayan kencang berhembus, tetap saja aku harus merapatkan baju hangatku.

Aku sudah mulai terbiasa dengan suhu dingin kota kecil ini. Pada dasarnya aku memang menyukai daerah dingin. Badanku juga terasa lebih cocok jika tinggal di daerah dingin. Itu juga salah satu alasan aku memilih Perfecture Nagano sebagai tempat belajarku selama 1 tahun. Karena Nagano merupakan daerah dingin dengan pegunungan Alps Utara yang berderet di sebelah barat perfecture ini. Dan ternyata sejak kedatanganku awal Oktober hingga saat ini aku tidak pernah masuk angin karena kedinginan. Ini membuktikan bahwa orang dari daerah tropis sepertiku pun bisa bertahan di daerah dingin.

Sudah 2,5 bulan aku tinggal di sini. Melanjutkan hidup sebagai mahasiswa trainee. Aku yang seharusnya telah lulus di universitas asalku, sengaja menunda kelulusan demi mengejar beasiswa ini. Untunglah pengorbananku tidak sia-sia. Sekarang aku bisa berdiri di sini, memandangi langit di negeri orang yang aku rasa berbeda dengan langit yang kupandang di negara asalku. Dengan bertumpu pada pembatas teras aku mendongak memandangi birunya langit Matsumoto. Hmmm...tidak berbeda dengan birunya langit Surabaya tapi apa ya yang membuatku merasa langit ini berbeda.

Aku sedang berpikir keras ketika tiba-tiba pintu di belakangku terbuka. Seorang laki-laki berumur kira-kira 2 tahun dibawahku (atau mungkin lebih muda, karena anak muda Jepang selalu terlihat lebih dewasa dari pada umurnya) berdiri memegang gagang pintu sambil menggigil kedinginan. Sebelah tangannya yang lain memegangi minuman kaleng yang sepertinya dia gunakan sebagai penghangat tangannya.
"Permisi!"
"Ya" jawabku sambil lalu kemudian mengalihkan pandanganku kembali ke langit. Aku heran kenapa dia harus mengucapkan kata permisi? Dasar orang Jepang yang terlalu sopan. Aku mendengar pintu di belakangku tertutup dan merasakan pemuda itu melewati belakangku bergeser ke sisi kiriku. Ah, rupanya di teras ini juga disediakan kursi dan tempat sampah khusus rokok. Aku tidak menyadarinya tadi.
"Hihhh, dingin, dingin, dingin!" pemuda itu terdengar mengomel lirih sambil duduk di kursi sementara aku sudah lupa tentang apa yang kupikirkan tadi. Yang kuingat hanyalah aku sedang memandangi langit. Oh, iya, aku ingat! Aku tadi sedang berpikir tentang perbedaan langit Surabaya dan langit Matsumoto. Apa yang berbeda ya? Kembali aku berpikir.

"Saya tidak mengganggu kan?"
Ada suara dari sisi kiriku. Oh, iya, tadi kan ada pemuda yang ke teras ini ya. Jadi sekarang aku tidak sendiri di sini. "Tidak" jawabku tanpa menoleh.
"Dingin ya di sini. Saya sebenarnya ada kuliah di kelas sebelah tapi karena saya datang terlambat jadi saya tidak boleh masuk. Saya boleh merokok kan?"

"Silahkan." Anak ini malas sekali. Masa kuliah jam ke-4 bisa terlambat. Apa dia baru bangun jam segini? Lagian sudah tahu terlambat masih sempat membeli minuman kaleng. Meskipun membeli di mesin penjual otomatis kan perlu setidaknya 1 menit untuk mengeluarkan uang, memilih minuman dan mengambilnya. Coba kalau dia datang 1 menit lebih awal, mungkin saja dosen masih mengijinkannya mengikuti kuliah.

"Anda bukan orang Jepang ya? Ah, dilihat pun semua orang pasti tahu ya? Maaf atas pertanyaan bodoh saya. Anda mau merokok?"
"Tidak, terima kasih." Anak ini ternyata banyak omong juga ya. Menyesal aku memperbolehkan dia menggangguku tadi. Sekarang dia bagai mesin motor rusak yang tak berhenti berbunyi drettt dreettt drreeetttt.... Tanpa sadar aku bergeser lebih ke kanan untuk menghindari anak muda itu.
"Eh, anda jangan terlalu ke sana, nanti terlihat dari kelas itu!" kembali terdengar suara mengusik itu.
Tapi ternyata benar, teras ini memanjang sampai ke ujung bangunan dan jika aku terus bergeser ke kanan maka aku akan terlihat dari jendela kelas di depan tangga. Terpaksa aku bergeser kembali ke tempatku semula.
"Nama saya Ryoji Takizawa. Saya datang dari Kyushu. Anda tahu pulau Kyushu kan? Di sana tidak sedingin Matsumoto. Juga tidak turun salju sebanyak di sini. Paling setahun cuma sekali itupun tidak menumpuk. Saya baru tingkat 1 dan masuk universitas April lalu. Ini adalah musim dingin pertama saya di sini. Saya ingin sekali melihat salju di kota ini. Salju di prefecture ini terkenal loh. Halus, lembut, dan sangat ringan. Itu karena udara di sini sangat bersih. Oh, ya, anda datang dari mana? Nama anda siapa?"

Wah, wah, wah, ternyata benar-benar bencana menerima anak ini bersamaku di teras ini. Baru kali ini aku bertemu orang Jepang yang nyerocos begitu panjang ketika baru pertama kali bertemu orang asing. Aku jadi curiga apakah dia sedang mabuk ya? Biasanya anak-anak muda Jepang menjadi hilang kendali dan sangat berani ketika sedang mabuk. Tapi masa siang bolong begini dia sudah mabuk?

Aku tidak segera menjawab pertanyaannya tapi aku menoleh ke arahnya. Sebenarnya aku hanya ingin mengecek minuman yang dibawanya. Jangan-jangan itu minuman beralkohol. Tapi ternyata bukan, hanya kopi instan kalengan. Dia tersenyum sambil memandangku. Wajahnya ternyata tidak seberapa jelek, mungkin bisa dibilang imut-imut untuk ukuran anak muda Jepang. Tapi tunggu dulu! Dia bilang tadi mahasiswa tingkat 1? Berarti masih sekitar 19 tahun? Hah? Tidak bisa dipercaya 19 tahun dengan wajah seperti itu. Aku pikir tadi dia sudah mendekati 21 tahun. Tapi dandanannya memang anak muda sekali. Rambutnya ditata ke atas sedemikian rupa dan tampaknya diberi gel karena rambut itu tidak bergerak sedikit pun meski angin bertiup cukup kencang. Memakai dobel kaos tanpa kerah (kaos lengan panjang dirangkap kaos lengan pendek di luarnya), celana jeans. Tasnya tergeletak di kursi kosong di sebelahnya. Aku langsung terbelalak melihat tasnya. Itu kan tas yang biasa dibawa cewek? Oh iya, aku lupa kalo sekarang sedang berada di Jepang dan cowok Jepang memang suka memakai tas yang kadang desainnya seperti tas cewek. Rupanya dia sadar kalau aku terkejut melihat tasnya. Dia segera melihat tasnya.
"Maaf!" kataku merasa sedikit tidak enak. "Saya Emi dari Indonesia."
"Emi? Seperti nama orang Jepang ya? Engg, Indonesia tuh di mana ya?"
Ya Tuhan selamatkan aku dari anak cerewet ini. "Indonesia tuh yang ada Balinya ya. Maaf, aku harus pergi sekarang." Pamitku terburu-buru. Aku segera menuju pintu dan menariknya. Tapi kok tidak bisa terbuka ya? Aku coba lagi dan lagi. Aku coba dorong juga tidak bisa. Wah bagaimana ini? Aku mulai ketakutan. Bagaimana kalau aku tidak bisa keluar dari sini? Apakah aku harus sampai besok pagi bersama anak cerewet ini? Ya Tuhan, please jangan Kau siksa aku seperti itu!

"Sepertinya pintu itu tidak bisa dibuka dari teras ya? Wah bagaimana ini? Terpaksa kita harus menunggu jam ganti perkuliahan untuk menunggu seseorang yang bisa membukakan pintu ini. Aduh, padahal di sini dingin ya?" kata anak itu dengan tanpa kekhawatiran malah terkesan senang. Anak itu memang dari wajahnya sudah terlihat kalau dia ceria.

Ya Tuhan, dosa apa yang telah kuperbuat hingga aku harus terkunci di teras dingin bersama seorang anak muda yang cerewet ini, rintihku dalam hati. Maa, shikatanai ka!* Tapi sekarang baru jam 15:00 padahal kuliah ke-4 selesai jam 16:15. Berarti aku harus bertahan berasama anak ini 75 menit lagi? Aduh! Bencana besar pertama yang menimpaku sejak kedatanganku di negara ini. Semoga ada orang yang lewat tangga sebentar lagi. Aku terus berdiri menghadap jendela, berharap ada orang lewat yang akan menolongku keluar dari teras ini.

Tapi 10 menit berlalu tanpa ada orang yang lewat. Aku capek bediri, tapi aku tidak ingin duduk dekat anak itu. Dia pasti mengajakku mengobrol lagi kalo aku duduk di dekatnya. Dan dia merokok! God! Aku benci sekali asap rokok. Lengkap sudah penderitaanku hari ini. Aku mencoba mengingat-ingat hari apa hari ini. Oh, iya, hari Jumat. Berarti bukan hari pasaran kelahiranku. Tapi jangan-jangan ini Jumat Kliwon. Kalo betul berarti besok adalah Sabtu Legi, hari pasaran kelahiranku. Apa benar karena besok kelahiranku aku jadi sial begini? Ah, pasti itu hanya kepercayaan. Dari pada berpikir tentang hal yang aneh seperti itu lebih baik aku berpikir bagaimana caranya keluar dari malapetaka ini.

"Eh, dari tadi kamu kelihatan gelisah, kenapa sih?"
"Tidak apa-apa." kataku berbohong. Gawat! Cara bicara bocah ini telah berubah dari bahasa sopan ke bahasa teman. Tanda-tanda buruk. Dalam bahasa Jepang jika baru pertama kali bertemu seseorang harus berbicara dalam bahasa sopan. Jika sudah akrab dan dekat seperti teman baru bisa menggunakan gaya bahasa biasa. Jadi kalau ada orang yang menggunakan gaya bahasa biasa pada saat pertama kali bertemu itu pertanda orang yang sok akrab. Aku yang penyendiri paling tidak bisa menghadapi orang yang sok akrab.

"Kamu tidak bisa kena asap rokok ya?" dia bertanya lagi.
"Iya"
"Kenapa tidak bilang dari tadi. Ok, aku matikan deh."
Lega juga akhirnya dia mau mematikan rokoknya.
"Eh, Emi san! Emi san ya tadi namamu?"
"Ya." jawabku masih dengan enggan. Duh, kenapa dia tidak paham kalau aku ingin sendiri dan tidak ingin diganggu ya.... Aku kembali berdiri bertumpu pada pagar teras tepat di depan pintu.
"Mau kopi?" Dia kini membuka kopi instan kalengan yang dari tadi dipegang untuk menghangatkan tangannya. "Cuma satu sih. Tapi kita bisa berbagi kan? Hehehe..."
"Tidak, terima kasih."
"Eh, Emi san, Indonesia itu negara yang bagaimana sih? Ayo cerita dong tentang Indonesia!"
"Indonesia adalah negara yang panas." jawabku singkat masih tanpa minat.
"Oooo...!" dia ber-o panjang. "Seberapa panasnya? Seperti Okinawa begitu? Tahu Okinawa kan?"
"Lebih panas lagi. Paling panas mungkin sama suhunya dengan musim panas di Tokyo."
"Wah panas sekali ya. Apakah ada nanas di sana?"
"Ada. Nanasnya enak." Anak ini pernah mendapat pelajaran Geografi tidak ya, pikirku. Masa tidak tahu di mana letak Indonesia, tidak tahu nanas bisa tumbuh di mana dsb. "Anda mahasiswa fakultas sastra juga?" tanyaku penasaran.
"Iya. Jurusan 'Manusia dan Informasi'. Kamu jurusan apa? Oh, iya, ngobrol biasa aja, gak usah terlalu sopan gitu. Ya? Paling kita seumur kan?"
"Aku mahasiswa trainee. Belajar bahasa Jepang di sini selama 1 tahun. Aku juga baru datang. Masih 2,5 bulan." Aku kaget mendengar kata-kata yang keluar dari mulutku. Kok aku bisa bicara sebanyak itu yah? Dengan orang yang baru kukenal lagi. Kenapa ya?
"Baru datang? Kalau begitu belum pernah melihat salju ya?"
"Iya. Negaraku sangat panas jadi tidak mungkin turun salju. Rasanya mungkin seperti musim panas sepanjang tahun." Kembali aku berbicara panjang lebar tanpa bisa aku rem. Apakah ini pengaruh langit biru yang cerah? Atau karena keceriaan lawan bicaraku sehingga aku terseret untuk berbicara lebih banyak. Selama ini aku tidak pernah berbicara sebanyak ini dengan orang yang baru kukenal.
"Eng, maaf nama anda siapa tadi?" Nah, nah! Sekarang aku malah menanyakan nama anak itu. Apa perlunya coba? Yah, sekedar untuk dikenang bahwa aku pernah terjebak di teras lantai 2 kampus yang dingin, pembelaanku.
"Ryoji Takizawa. Panggil saja aku Taki. Teman-temanku biasa memanggilku begitu." jawabnya sembari tersenyum. Ternyata senyumnya manis juga. "Emi san tinggal di mana?"
"Di Ryugakusei kaikan**."
"Oh, yang dekat Apple Land*** itu ya? Aku juga tinggal dekat situ. Tahu jalan di sebelah Apple Land kan? Nah jalan itu masuk sampai ujung dan aku tinggal di rumah susun di kiri jalan. Dekat kan? Kapan-kapan main ke tempatku ya. Tapi kamu telpon dulu soalnya aku harus bersih-bersih rumah sebelum menerima tamu. Hehehe... maklum cowok males bersih-bersih. Aku juga boleh main ke tempatmu kan?"

Aku sempat berpikir Taki bukanlah orang Jepang. Orang Jepang yang kutemui selama ini tidak ada yang seagresif dia. Aku jadi bingung harus menjawab apa. Kalo aku menjawab boleh pasti dia akan serius main ke dormitoriku. Meskipun sebenarnya itu adalah basa-basi. Tapi apakah aku harus menjawab tidak? Apa alasanku melarangnya main ke tempatku? "Emm...boleh. Tapi sebelum datang tolong telpon aku dulu. Taki san tunggu di ruang tamu nanti aku turun ke sana." jawabku akhirnya setelah bimbang beberapa lama. Jawabanku ternyata melegakan hati Taki karena dia tersenyum manis sekali setelah mendengarnya.
"Ok!" jawabnya ceria. "Kalau begitu kita tukeran nomer HP yah. Enggg...nomerku..."dia mengeluarkan HP dan menyebutkan beberapa angka. Aku buru-buru mengeluarkan HP-ku juga untuk mencatat nomer HP-nya. Tapi karena tidak tercatat maka aku memintanya untuk mengulang.
"Ok? Sekarang nomer HP-mu berapa?" tanyannya.
"Emmmm...aku tidak hafal nomerku dan aku tidak tahu harus mencari datanya di mana?"
"Ok, begini saja. Kamu telpon aku sekarang. Nomermu nanti pasti akan muncul di HP-ku."

Aku menurut saja apa kata-katanya. Ketika terdengar nada sambung aku melihat ke arahnya. Beberapa saat kemudian HP-nya mulai bergetar.
"Ini ya nomermu?" tanyanya sambil menunjukkan layar HP-nya kearahku. Karena kami terpisah sekitar 2 meter maka aku tidak bisa melihat nomer itu dengan jelas. Aku berjalan mendekatinya. Tapi tanpa sengaja aku menjatuhkan tasku yang kuletakkan di pagar teras tadi. Buku-buku yang kubawa langsung berserakan di lantai. Aku terpekik tertahan dan segera memunguti buku-bukuku. Untung terjatuh ke arah teras batinku.
"Aku bantu!" kata Taki seraya membungkuk mengambili bukuku. Tapi dia tidak memperhatikan aku yang juga sedang membungkuk sehingga kepala kami berbeturan.
"Aduh!" teriak kami bersamaan. Buku-buku yang aku pengan kembali jatuh berserakan. Rupanya kesialanku masih berlanjut rintihku dalam hati. Kami terduduk di lantai sambil meringis kesakitan. Saat itu baru aku sadar kalau HP-ku sudah tidak mengirim sinyal ke HP-nya.
"Wah, aku telah memencet tombol 'cancel' tadi. Apakah Taki san bisa mengecek nomorku?"
"Tentu saja bisa. Kita lihat saja memori di telpon masuk, pasti ada nomermu."
Oh, iya ya, bodohnya aku. Aku meringis antara malu dan sakit.
"Sepertinya ini nomermu. Coba aku telpon sekarang."
Tepat saat HP-ku bergetar bel tanda kuliah selesai pun terdengar. Aku cepat-cepat mengecek nomor Taki dan segera membereskan buku-buku yang berserakan. Sementara Taki berdiri menunggu teman-temannya keluar dari kelas. Dan ketika mahasiswa di kelas itu keluar kami pun bisa keluar dari teras.
Bencana yang tak bisa kulupakan sampai kapan pun.

====

Sejak bencana itu aku hampir tiap hari bertemu Taki. Selalu saja ketika aku sendiri memikirkan perbedaan langit Surabaya dan langit Matsumoto, Taki tiba-tiba muncul di sampingku. Taki benar-benar berpembawaan ceria. Ada saja ceritanya yang membuat aku banyak berkomentar atau ada saja pertanyaannya yang membuat aku harus menjelaskan secara panjang lebar.

Perasaanku untuk selalu sendiri pun perlahan mulai memudar. Aku mulai bisa menerima kehadiran Taki tanpa rasa jengkel ataupun marah. Aku juga mulai bisa menerima kehadiran teman-teman yang lain. Tapi terbatas hanya teman perempuan. Satu-satunya teman lelakiku hanyalah Taki. Aku sendiri tidak mengerti kenapa aku hanya bisa menerima Taki. Aku bahkan menerima Taki bermain ke dormitoriku. Tentu saja masih di ruang tamu dan dengan Taki yang berbicara panjang lebar kesana kemari semantara aku hanya mendengarkan dengan tekun. Terkadang Taki mengajariku istilah-istilah yang sering dipakai anak muda. Dia juga sering membantuku mengerjakan tugas kampus.

Suatu hari ketika aku sedang berdiri sendiri di teras kampus seperti biasa, tiba-tiba ada batu dingin yang serasa menghantam kepalaku. Aku kaget sekali karena ternyata itu adalah gumpalan salju. Semalam memang salju turun dengan lebatnya hingga hari ini salju menumpuk setinggi 50cm di kota kecil Matsumoto. Pemandangan pertama dalam hidupku kulihat tadi pagi ketika membuka jendela. Aku melihat semuanya putih menyilaukan. Benar-benar membuatku terpukau.

Dan di sini, di teras ini salju juga sedikit tersisa. Mungkin terbawa angin dan menumpuk di lantai teras. Ketika aku sibuk mengingat panorama yang kusaksikan tadi pagi, sebuah gumpalan salju lagi menghantam tepat di keningku. Benar-benar kurang ajar, runtukku. Siapa lagi yang berani melakukan ini kalau bukan Taki. Dan benar saja. Di dekat tempat parkir sepeda, tepat di bawahku, Taki melambaikan tanganya ke arahku. "Ayo turun! Kita main lempar-lemparan salju yuk!" teriaknya.
Aku menggeleng. Tapi ternyata hal itu malah menyebabkan Taki membuat gumpalan salju yang lebih besar dan melemparkannya ke arahku. Aku berhasil menghindar tapi bajuku masih terkena cipratannya. Akhirnya aku tak tahan untuk tidak membalas. Aku segera keluar teras dan turun ke tempat Taki berada.

"Emi! Kamu berhenti di situ! Kita harus beri jarak kira-kira 5 meter. Lalu kita saling melempar ya!" Teriak Taki sambil terus membuat bola salju. Untung perkuliahan sudah selesai sehingga teriakan Taki sama sekali tidak mengganggu.
"Tapi apa gak lebih baik kita bermain di lapangan saja? Di sini kan bahaya kalau kena kaca!" balasku juga berteriak. Taki mengacungkan ibu jarinya tanda setuju. Lalu kami berjalan beriringan menuju lapangan.

Ternyata di lapangan sudah banyak anak lain yang bermain lempar-lemparan salju. Kami segera bergabung dan sebentar saja kami sudah basah kuyup karena bola salju datang bertubi-tubi dari segala arah. Aku dan Taki yang baru pertama kali bermain tidak tahu strategi yang benar.

Dengan menggigil kedinginan Taki menyeret aku menjauhi lapangan. Aku juga kedinginan karena basah kuyup. Kepala dan badanku rasanya sakit semua. Tapi aku merasakan kebahagiaan yang luar biasa. Gairah hidup yang selama ini hilang entah ke mana. Permainan lempar salju mengingatkanku bagaimana cara mempertahankan diri dari ganasnya hidup. Mengingatkanku bahwa aku tidak boleh terus mengikuti arus tanpa punya pegangan. Aku seakan tersadar dari tidur panjangku.

Tiba-tiba aku ingin menangis. Dan aku benar-benar menangis tersedu. Taki yang menggandeng setengah menyeretku terlihat kaget. "Emi kenapa? Kepalamu sakit ya? Atau..."
Taki tak sempat menyelesaikan pertanyaannya karena aku menggenggam tangannya begitu erat. Mungkin dia merasa sakit tapi aku tidak. Tanganku telah terasa kebas oleh dinginnya salju dan juga oleh luapan perasaanku. Aku bergelayut pada sebelah tangan Taki dan menangis sesenggukan di lengannya.

Untuk beberapa saat kami terduduk di tepi jalan yang sepi ditengah hamparan salju yang putih. Sebelah tangan Taki yang bebas membelai lembut rambutku seakan memberi semangat kepadaku. Tak bisa kupungkiri bahwa aku membutuhkan kedua tangan itu. Aku yang telah sendiri dan berusaha selalu sendiri sangat membutuhkan seseorang di sampingku. Aku tiba-tiba merasa letih. Dan luapan perasaanku telah mengalir deras dari mataku.

Setelah puas menangis aku menegadah memandang Taki dengan penuh permohonan maaf. Aku masih belum bisa bicara. Dan kulihat Taki mengisyaratkan kepadaku untuk tidak bicara. Dia membantuku berdiri dan kami kembali melangkah. Kekalutanku membuatku tak tahu arah. Aku hanya menurut ke mana Taki pergi.

Ketika aku sadar aku sudah berada di depan pintu kamar mandi. Taki sedang mempersiapkan air hangat di bathtub. Kemudian dia keluar dan mempersilahkan aku masuk tanpa berkata apapun. Aku segera melepas bajuku yang basah dan segera berendam di air hangat. Berdiam di sana merasakan darahku kembali mengalir di tubuhku yang beku. Merasakan kehidupan kembali mendatangiku.

Aku mulai bisa berpikir jernih. Berpikir tentang semua yang kuinginkan, tentang semua yang kubutuhkan. Aku merasa inilah saatnya menentukan hidupku untuk selanjutnya. Aku menginginkannya. Aku membutuhkannya. Aku harus berani.

Dengan segenap keberanian kugenggam aku keluar dari bathtub dan mengeringkan badan dengan handuk yang telah disediakan Taki. Rupanya selama aku di dalam dia mempersiapkannya juga bajunya yang bisa kupakai sebagai ganti bajuku yang basah. Tuhan berilah kekuatanMu padaku.

Aku keluar dari kamar mandi dan mencarinya. Taki sedang menghangatkan diri di dekat pemanas ruangan. Aku mendekat dan duduk menjajarinya. Kutatap matanya lalu perlahan aku membuka mulutku. "Taki aku suka kamu."

bersambung

*maa shikata nai ka : apa boleh buat
**ryugakusei kaikan : dormitori khusus mahasiswa asing
***apple land : nama supermarket

Labels:

Saturday, December 02, 2006

Demi kamu

WARNING!!!
Cerita ini fiktif belaka. Jika ada kesamaan nama, tempat, kejadian semuanya hanya kebetulan dan tidak ada faktor kesengajaan. (Mungkin juga itu yg ngasih inspirasi ke aku sih :p)


“Makasih ya, kamu mau nemenin aku. Kamu baik banget sih!” kataku ketika kita selesai pesan makanan di warung lesehan sehabis nonton bareng. Kamu hanya tersenyum manis menanggapi kata-kataku. Ayo dong, ngomong sesuatu! Kalo kamu diem aja, aku nih yang bakalan ngomong. Tapi kamu tetap diam sambil melipat sapu tangan yang kamu pakai menutupi wajah saat naik motor tadi.

“Kamu tetep mau jadi temenku dan baik sama aku kan, kalo aku jadi suka sama kamu?” tanyaku akhirnya karena kamu gak ngomong apa-apa. Sebenarnya aku berharap kamu ngomong sesuatu supaya pertanyaanku itu gak meluncur dari mulutku.

Tepat seperti dugaanku, kamu menoleh kaget ke arahku saat pertanyaan tadi selesai kuucapkan. Kamu menatap lekat mataku seakan mencari kebohongan di sana. Aku sempat kelimpungan menerima pandangan matamu, tetapi kuusahakan untuk tetap tersenyum dan melihat bola matamu dengan sungguh-sungguh.

“Kamu gak salah makan ato minum obat kan?” tanyamu di tengah kekagetanmu.

“Ya, enggak lah! Ini juga baru pesen makanan. Tuh lagi dibikinin sama masnya. Lagian aku gak sakit kok, jadi gak minum obat apapun.” Kamu membuatku tertawa dengan pertanyaanmu yang lucu. Lalu kamu ikut tersenyum melihat aku tertawa terpingkal-pingkal. Dan kekagetanmu mulai memudar seiring dengan semakin melebarnya senyumanmu.

“Habisnya pertanyaanmu aneh banget sih. Tiba-tiba lagi!” katamu sambil mengisyaratkan supaya aku berhenti tertawa.

“Aku bener-bener serius dengan pertanyaanku tadi.” kataku setelah aku tenang. Kembali aku duduk dan tersenyum tenang. “Memang belum berapa lama kita kenal dan akrab. Tapi selama ini aku merasa cocok ngobrol ma kamu. Merasa nyaman keluar ato jalan ma kamu. Meski aku tau aku belum tau semua tentang kamu tapi aku merasa bahwa aku menyukai kamu. Seperti halnya seorang wanita menyukai seorang pria tentunya. Lebih dari rasa suka sebagai seorang teman. Kamu ngerti maksudku kan?”

Wajahmu kembali menunjukkan keterkejutan. Duuhhh…kamu tuh lucu banget sih. Lihat wajahmu yang polos itu. Lihat juga bibirmu yang memerah karena tak pernah tersentuh rokok. Dan lihat matamu yang gede dengan bola mata yang berputar kesana-kemari. Ngegemesin banget tahu!

Saat itu minuman yang kita pesan datang. Segera kamu seruput es teh pesanan kamu. Kok jadi kamu yang kehausan yah? Padahal aku kan yang ngomong banyak. Aku juga ikut meminum es jeruk pesananku. Lalu ketika aku mau melanjutkan ucapanku, kulihat kamu mau mengatakan sesuatu.

“Jujur saja aku seneng banget cewek semanis kamu jatuh suka ma aku.” Duh, kamu kok bisa ngerayu juga ternyata ya. Pipiku kan jadi terasa panas karena kamu ngomong gitu. Sebelum kamu lihat perubahan di wajahku, buru-buru kujatuhkan mukaku pura-pura meneyeruput esku lagi.

“Tapi ya…kamu kan tau sendiri kalo aku punya seseorang yang aku tunggu. Aku ga bisa menyukaimu lebih dari seorang temen. Kamu ngerti kan? Aku sudah bercerita banyak tentang dia kan?”

Duuhhh… kamu straight banget sih nolaknya. Aku kan jadi patah hati dengan sukses. Untung aja aku dah bawa persiapan lem hati dari rumah. Tapi meski begitu, tak urung hilang juga senyum di wajahku dan dudukku pun jadi jengah.

“Aku tahu kok. Aku juga sadar kamu ga bakalan bales perasaanku seperti yang aku rasakan ke kamu. Karena itulah aku suka kamu. Kamu baik kepada siapapun tetapi tetap setia menunggu seseorang yang kamu pilih. Sungguh beruntung cewek pilihanmu itu ya.” kataku setelah berhasil menata hatiku dan kembali tersenyum. Aku ga mau mewek di depan kamu. Aku dah siap ngomong jujur ke kamu dan siap dengan segala penolakanmu. Jadi aku berusaha untuk tetap tersenyum. “Aku hanya ingin ngungkapin perasaanku ke kamu. Aku gak pengen kamu dengar tentang ini dari orang lain trus kamu jadi jaga jarak sama aku. Aku gak pengen kehilangan seorang teman. Makanya aku tanya ke kamu tadi. Aku berharap kamu tetap mau jadi temanku, tetep baik ma aku meski dah tau gimana perasaan khususku ma kamu. Kamu gak usah merasa bersalah karena ga bisa bales perasaanku. Bukan salahmu kan kalo aku jadi suka kamu. Juga bukan salahmu kalo kamu suka orang lain. Gak ada yang salah di antara kita. Makanya kita masih bisa tetep berteman. Betul?”

Kamu kelihatan agak berpikir. Aku tahu kamu pasti ngerasa gak enak karena tiba-tiba muncul perasaan lain di hatiku terhadap kamu. Tapi seperti yang aku omongin tadi, gak ada yang salah dengan rasa suka kan? Kamu gak salah juga nolak aku karena dah ada seseorang yang kamu tunggu. Ketika akhirnya kamu bicara, “Tentu saja kita masih tetap bisa berteman. Jangan khawatir!”

Akhirnya aku bisa tersenyum lega mendengar jawabanmu itu. Juga karena bisa melihat kamu tersenyum manis. Senyum termanis darimu yang pernah aku lihat.

Ketika makanan pesanan kita datang, kitapun bisa makan dengan tenang dan berbicara seperti biasa.

***

Tetapi minggu-minggu kemudian keanehan mulai terjadi. Kamu jadi jarang membalas smsku. Kamu juga sering menghindar ketika aku menelponmu. Bahkan ketika aku minta tolong untuk ngater aku ke toko buku, kamu nolak dengan alasan kamu lembur di kantor. Ada apa sih dengan kamu? Katamu kita masih bisa berteman? Katamu kamu masih tetap mau menolongku? Tapi kenapa kamu jadi berubah? Apakah kamu benar-benar tidak menyukai perasaan lain yang muncul di antara kita? Jika iya, aku bisa kok ngilanginnya. Demi kamu, demi pertemanan kita, aku akan membuang semua perasaan itu. Jika itu yang membuat kamu nyaman, aku tidak akan mengusik-usik lagi tentang rasa itu. Tolonglah! Aku benar-benar merasa bersalah jika kamu menghindariku seperti ini. Lebih baik kamu berkata jujur ma aku jika kamu memang tidak bisa lagi berteman denganku. Jika memang melihatku pun kamu ogah. Jika memang tak ingin aku mengganggumu. Aku kan lakukan itu. Tapi tolong katakan itu secara jujur padaku. Dan satu lagi. Maafkan aku yang telah mengganggumu dengan perasaanku kepadamu. Hanya itu permintaan terakhirku.

Labels: