All about Mee in P

Wednesday, December 13, 2006

Selamat Datang Cinta

Aku menaiki tangga sambil menahan dinginnya udara Desember. Kuliah hari ini telah usai tapi aku harus mengumpulkan tugas ke ruang profesorku sebelum jam 5 sore. Aku lirik jam tanganku. Ah, ternyata masih jam 14:35, masih jauh dari kata terlambat dari batas waktu mengumpulkan tugas.

Ruang pribadi profesorku ada di lantai 3. Lumayan sulit menuju ke sana pada jam seperti ini. Sekarang adalah jam istirahat 15 menit diantara perkuliahan yang digunakan sebagai waktu berpindah ruang kuliah. Tak heran jika banyak anak bergerombol turun-naik tangga. Mengingat gedung ini hanya terdiri dari 4 lantai dan lift yang ada sudah sangat tua sehingga lebih cepat menggunakan tangga dari pada lift.

Akhirnya sampai juga aku di depan ruang profesorku. Segera kumasukkan tugasku ke kotak yang telah disediakan. Aku lihat belum ada tugas dari mahasiswa lain. Ternyata aku yang paling rajin untuk minggu ini. Yes! teriakku senang dalam hati.

Urusanku di lantai 3 hanyalah mengumpulkan tugas. Maka setelah selesai aku bergegas berjalan ke arah tangga untuk turun lagi dan segera pulang. Tapi ternyata di tangga masih banyak mahasiswa bergerombol. Kebanyakan mahasiswa pria yang merokok sambil menunggu kuliah mulai. Di kampus ini memang tempat merokok dibatasi di tempat yang disediakan asbak dan tempat sampah khusus rokok. Biasanya tempat itu ada di ujung tangga atau di depan pintu masuk sebuah ruangan.

Aku turun perlahan ke lantai 2. Di ujung tangga lantai 2 ternyata sudah tidak ada mahasiswa yang merokok. Bahkan tak terlihat seorang pun di sini. Tak sengaja aku menoleh ke jendela. Beberapa pucuk pohon terlihat berjajar di langit biru yang cerah. Ah, langit di sini ternyata tidak jauh berbeda dengan langit di negaraku. Tapi ada sesuatu yang menggerakkan hatiku untuk mengamati lebih detail langit itu. Akhirnya aku membuka pintu ke teras yang ada di samping anak tangga teratas.

Angin dingin yang menyegarkan segera menerpa mukaku. Menurut ramalan cuaca yang kudengar di berita radio tadi pagi, hari ini diperkirakan cerah dengan suhu maksimal 5 derajat dan suhu minimal -2 derajat. Biasanya ramalan cuaca di negeri sakura ini tidak meleset. Aku rasa jam-jam sekarang adalah masa 'terhangat' untuk hari ini. Tapi karena aku berada di lantai 2 dengan angin yang lumayan kencang berhembus, tetap saja aku harus merapatkan baju hangatku.

Aku sudah mulai terbiasa dengan suhu dingin kota kecil ini. Pada dasarnya aku memang menyukai daerah dingin. Badanku juga terasa lebih cocok jika tinggal di daerah dingin. Itu juga salah satu alasan aku memilih Perfecture Nagano sebagai tempat belajarku selama 1 tahun. Karena Nagano merupakan daerah dingin dengan pegunungan Alps Utara yang berderet di sebelah barat perfecture ini. Dan ternyata sejak kedatanganku awal Oktober hingga saat ini aku tidak pernah masuk angin karena kedinginan. Ini membuktikan bahwa orang dari daerah tropis sepertiku pun bisa bertahan di daerah dingin.

Sudah 2,5 bulan aku tinggal di sini. Melanjutkan hidup sebagai mahasiswa trainee. Aku yang seharusnya telah lulus di universitas asalku, sengaja menunda kelulusan demi mengejar beasiswa ini. Untunglah pengorbananku tidak sia-sia. Sekarang aku bisa berdiri di sini, memandangi langit di negeri orang yang aku rasa berbeda dengan langit yang kupandang di negara asalku. Dengan bertumpu pada pembatas teras aku mendongak memandangi birunya langit Matsumoto. Hmmm...tidak berbeda dengan birunya langit Surabaya tapi apa ya yang membuatku merasa langit ini berbeda.

Aku sedang berpikir keras ketika tiba-tiba pintu di belakangku terbuka. Seorang laki-laki berumur kira-kira 2 tahun dibawahku (atau mungkin lebih muda, karena anak muda Jepang selalu terlihat lebih dewasa dari pada umurnya) berdiri memegang gagang pintu sambil menggigil kedinginan. Sebelah tangannya yang lain memegangi minuman kaleng yang sepertinya dia gunakan sebagai penghangat tangannya.
"Permisi!"
"Ya" jawabku sambil lalu kemudian mengalihkan pandanganku kembali ke langit. Aku heran kenapa dia harus mengucapkan kata permisi? Dasar orang Jepang yang terlalu sopan. Aku mendengar pintu di belakangku tertutup dan merasakan pemuda itu melewati belakangku bergeser ke sisi kiriku. Ah, rupanya di teras ini juga disediakan kursi dan tempat sampah khusus rokok. Aku tidak menyadarinya tadi.
"Hihhh, dingin, dingin, dingin!" pemuda itu terdengar mengomel lirih sambil duduk di kursi sementara aku sudah lupa tentang apa yang kupikirkan tadi. Yang kuingat hanyalah aku sedang memandangi langit. Oh, iya, aku ingat! Aku tadi sedang berpikir tentang perbedaan langit Surabaya dan langit Matsumoto. Apa yang berbeda ya? Kembali aku berpikir.

"Saya tidak mengganggu kan?"
Ada suara dari sisi kiriku. Oh, iya, tadi kan ada pemuda yang ke teras ini ya. Jadi sekarang aku tidak sendiri di sini. "Tidak" jawabku tanpa menoleh.
"Dingin ya di sini. Saya sebenarnya ada kuliah di kelas sebelah tapi karena saya datang terlambat jadi saya tidak boleh masuk. Saya boleh merokok kan?"

"Silahkan." Anak ini malas sekali. Masa kuliah jam ke-4 bisa terlambat. Apa dia baru bangun jam segini? Lagian sudah tahu terlambat masih sempat membeli minuman kaleng. Meskipun membeli di mesin penjual otomatis kan perlu setidaknya 1 menit untuk mengeluarkan uang, memilih minuman dan mengambilnya. Coba kalau dia datang 1 menit lebih awal, mungkin saja dosen masih mengijinkannya mengikuti kuliah.

"Anda bukan orang Jepang ya? Ah, dilihat pun semua orang pasti tahu ya? Maaf atas pertanyaan bodoh saya. Anda mau merokok?"
"Tidak, terima kasih." Anak ini ternyata banyak omong juga ya. Menyesal aku memperbolehkan dia menggangguku tadi. Sekarang dia bagai mesin motor rusak yang tak berhenti berbunyi drettt dreettt drreeetttt.... Tanpa sadar aku bergeser lebih ke kanan untuk menghindari anak muda itu.
"Eh, anda jangan terlalu ke sana, nanti terlihat dari kelas itu!" kembali terdengar suara mengusik itu.
Tapi ternyata benar, teras ini memanjang sampai ke ujung bangunan dan jika aku terus bergeser ke kanan maka aku akan terlihat dari jendela kelas di depan tangga. Terpaksa aku bergeser kembali ke tempatku semula.
"Nama saya Ryoji Takizawa. Saya datang dari Kyushu. Anda tahu pulau Kyushu kan? Di sana tidak sedingin Matsumoto. Juga tidak turun salju sebanyak di sini. Paling setahun cuma sekali itupun tidak menumpuk. Saya baru tingkat 1 dan masuk universitas April lalu. Ini adalah musim dingin pertama saya di sini. Saya ingin sekali melihat salju di kota ini. Salju di prefecture ini terkenal loh. Halus, lembut, dan sangat ringan. Itu karena udara di sini sangat bersih. Oh, ya, anda datang dari mana? Nama anda siapa?"

Wah, wah, wah, ternyata benar-benar bencana menerima anak ini bersamaku di teras ini. Baru kali ini aku bertemu orang Jepang yang nyerocos begitu panjang ketika baru pertama kali bertemu orang asing. Aku jadi curiga apakah dia sedang mabuk ya? Biasanya anak-anak muda Jepang menjadi hilang kendali dan sangat berani ketika sedang mabuk. Tapi masa siang bolong begini dia sudah mabuk?

Aku tidak segera menjawab pertanyaannya tapi aku menoleh ke arahnya. Sebenarnya aku hanya ingin mengecek minuman yang dibawanya. Jangan-jangan itu minuman beralkohol. Tapi ternyata bukan, hanya kopi instan kalengan. Dia tersenyum sambil memandangku. Wajahnya ternyata tidak seberapa jelek, mungkin bisa dibilang imut-imut untuk ukuran anak muda Jepang. Tapi tunggu dulu! Dia bilang tadi mahasiswa tingkat 1? Berarti masih sekitar 19 tahun? Hah? Tidak bisa dipercaya 19 tahun dengan wajah seperti itu. Aku pikir tadi dia sudah mendekati 21 tahun. Tapi dandanannya memang anak muda sekali. Rambutnya ditata ke atas sedemikian rupa dan tampaknya diberi gel karena rambut itu tidak bergerak sedikit pun meski angin bertiup cukup kencang. Memakai dobel kaos tanpa kerah (kaos lengan panjang dirangkap kaos lengan pendek di luarnya), celana jeans. Tasnya tergeletak di kursi kosong di sebelahnya. Aku langsung terbelalak melihat tasnya. Itu kan tas yang biasa dibawa cewek? Oh iya, aku lupa kalo sekarang sedang berada di Jepang dan cowok Jepang memang suka memakai tas yang kadang desainnya seperti tas cewek. Rupanya dia sadar kalau aku terkejut melihat tasnya. Dia segera melihat tasnya.
"Maaf!" kataku merasa sedikit tidak enak. "Saya Emi dari Indonesia."
"Emi? Seperti nama orang Jepang ya? Engg, Indonesia tuh di mana ya?"
Ya Tuhan selamatkan aku dari anak cerewet ini. "Indonesia tuh yang ada Balinya ya. Maaf, aku harus pergi sekarang." Pamitku terburu-buru. Aku segera menuju pintu dan menariknya. Tapi kok tidak bisa terbuka ya? Aku coba lagi dan lagi. Aku coba dorong juga tidak bisa. Wah bagaimana ini? Aku mulai ketakutan. Bagaimana kalau aku tidak bisa keluar dari sini? Apakah aku harus sampai besok pagi bersama anak cerewet ini? Ya Tuhan, please jangan Kau siksa aku seperti itu!

"Sepertinya pintu itu tidak bisa dibuka dari teras ya? Wah bagaimana ini? Terpaksa kita harus menunggu jam ganti perkuliahan untuk menunggu seseorang yang bisa membukakan pintu ini. Aduh, padahal di sini dingin ya?" kata anak itu dengan tanpa kekhawatiran malah terkesan senang. Anak itu memang dari wajahnya sudah terlihat kalau dia ceria.

Ya Tuhan, dosa apa yang telah kuperbuat hingga aku harus terkunci di teras dingin bersama seorang anak muda yang cerewet ini, rintihku dalam hati. Maa, shikatanai ka!* Tapi sekarang baru jam 15:00 padahal kuliah ke-4 selesai jam 16:15. Berarti aku harus bertahan berasama anak ini 75 menit lagi? Aduh! Bencana besar pertama yang menimpaku sejak kedatanganku di negara ini. Semoga ada orang yang lewat tangga sebentar lagi. Aku terus berdiri menghadap jendela, berharap ada orang lewat yang akan menolongku keluar dari teras ini.

Tapi 10 menit berlalu tanpa ada orang yang lewat. Aku capek bediri, tapi aku tidak ingin duduk dekat anak itu. Dia pasti mengajakku mengobrol lagi kalo aku duduk di dekatnya. Dan dia merokok! God! Aku benci sekali asap rokok. Lengkap sudah penderitaanku hari ini. Aku mencoba mengingat-ingat hari apa hari ini. Oh, iya, hari Jumat. Berarti bukan hari pasaran kelahiranku. Tapi jangan-jangan ini Jumat Kliwon. Kalo betul berarti besok adalah Sabtu Legi, hari pasaran kelahiranku. Apa benar karena besok kelahiranku aku jadi sial begini? Ah, pasti itu hanya kepercayaan. Dari pada berpikir tentang hal yang aneh seperti itu lebih baik aku berpikir bagaimana caranya keluar dari malapetaka ini.

"Eh, dari tadi kamu kelihatan gelisah, kenapa sih?"
"Tidak apa-apa." kataku berbohong. Gawat! Cara bicara bocah ini telah berubah dari bahasa sopan ke bahasa teman. Tanda-tanda buruk. Dalam bahasa Jepang jika baru pertama kali bertemu seseorang harus berbicara dalam bahasa sopan. Jika sudah akrab dan dekat seperti teman baru bisa menggunakan gaya bahasa biasa. Jadi kalau ada orang yang menggunakan gaya bahasa biasa pada saat pertama kali bertemu itu pertanda orang yang sok akrab. Aku yang penyendiri paling tidak bisa menghadapi orang yang sok akrab.

"Kamu tidak bisa kena asap rokok ya?" dia bertanya lagi.
"Iya"
"Kenapa tidak bilang dari tadi. Ok, aku matikan deh."
Lega juga akhirnya dia mau mematikan rokoknya.
"Eh, Emi san! Emi san ya tadi namamu?"
"Ya." jawabku masih dengan enggan. Duh, kenapa dia tidak paham kalau aku ingin sendiri dan tidak ingin diganggu ya.... Aku kembali berdiri bertumpu pada pagar teras tepat di depan pintu.
"Mau kopi?" Dia kini membuka kopi instan kalengan yang dari tadi dipegang untuk menghangatkan tangannya. "Cuma satu sih. Tapi kita bisa berbagi kan? Hehehe..."
"Tidak, terima kasih."
"Eh, Emi san, Indonesia itu negara yang bagaimana sih? Ayo cerita dong tentang Indonesia!"
"Indonesia adalah negara yang panas." jawabku singkat masih tanpa minat.
"Oooo...!" dia ber-o panjang. "Seberapa panasnya? Seperti Okinawa begitu? Tahu Okinawa kan?"
"Lebih panas lagi. Paling panas mungkin sama suhunya dengan musim panas di Tokyo."
"Wah panas sekali ya. Apakah ada nanas di sana?"
"Ada. Nanasnya enak." Anak ini pernah mendapat pelajaran Geografi tidak ya, pikirku. Masa tidak tahu di mana letak Indonesia, tidak tahu nanas bisa tumbuh di mana dsb. "Anda mahasiswa fakultas sastra juga?" tanyaku penasaran.
"Iya. Jurusan 'Manusia dan Informasi'. Kamu jurusan apa? Oh, iya, ngobrol biasa aja, gak usah terlalu sopan gitu. Ya? Paling kita seumur kan?"
"Aku mahasiswa trainee. Belajar bahasa Jepang di sini selama 1 tahun. Aku juga baru datang. Masih 2,5 bulan." Aku kaget mendengar kata-kata yang keluar dari mulutku. Kok aku bisa bicara sebanyak itu yah? Dengan orang yang baru kukenal lagi. Kenapa ya?
"Baru datang? Kalau begitu belum pernah melihat salju ya?"
"Iya. Negaraku sangat panas jadi tidak mungkin turun salju. Rasanya mungkin seperti musim panas sepanjang tahun." Kembali aku berbicara panjang lebar tanpa bisa aku rem. Apakah ini pengaruh langit biru yang cerah? Atau karena keceriaan lawan bicaraku sehingga aku terseret untuk berbicara lebih banyak. Selama ini aku tidak pernah berbicara sebanyak ini dengan orang yang baru kukenal.
"Eng, maaf nama anda siapa tadi?" Nah, nah! Sekarang aku malah menanyakan nama anak itu. Apa perlunya coba? Yah, sekedar untuk dikenang bahwa aku pernah terjebak di teras lantai 2 kampus yang dingin, pembelaanku.
"Ryoji Takizawa. Panggil saja aku Taki. Teman-temanku biasa memanggilku begitu." jawabnya sembari tersenyum. Ternyata senyumnya manis juga. "Emi san tinggal di mana?"
"Di Ryugakusei kaikan**."
"Oh, yang dekat Apple Land*** itu ya? Aku juga tinggal dekat situ. Tahu jalan di sebelah Apple Land kan? Nah jalan itu masuk sampai ujung dan aku tinggal di rumah susun di kiri jalan. Dekat kan? Kapan-kapan main ke tempatku ya. Tapi kamu telpon dulu soalnya aku harus bersih-bersih rumah sebelum menerima tamu. Hehehe... maklum cowok males bersih-bersih. Aku juga boleh main ke tempatmu kan?"

Aku sempat berpikir Taki bukanlah orang Jepang. Orang Jepang yang kutemui selama ini tidak ada yang seagresif dia. Aku jadi bingung harus menjawab apa. Kalo aku menjawab boleh pasti dia akan serius main ke dormitoriku. Meskipun sebenarnya itu adalah basa-basi. Tapi apakah aku harus menjawab tidak? Apa alasanku melarangnya main ke tempatku? "Emm...boleh. Tapi sebelum datang tolong telpon aku dulu. Taki san tunggu di ruang tamu nanti aku turun ke sana." jawabku akhirnya setelah bimbang beberapa lama. Jawabanku ternyata melegakan hati Taki karena dia tersenyum manis sekali setelah mendengarnya.
"Ok!" jawabnya ceria. "Kalau begitu kita tukeran nomer HP yah. Enggg...nomerku..."dia mengeluarkan HP dan menyebutkan beberapa angka. Aku buru-buru mengeluarkan HP-ku juga untuk mencatat nomer HP-nya. Tapi karena tidak tercatat maka aku memintanya untuk mengulang.
"Ok? Sekarang nomer HP-mu berapa?" tanyannya.
"Emmmm...aku tidak hafal nomerku dan aku tidak tahu harus mencari datanya di mana?"
"Ok, begini saja. Kamu telpon aku sekarang. Nomermu nanti pasti akan muncul di HP-ku."

Aku menurut saja apa kata-katanya. Ketika terdengar nada sambung aku melihat ke arahnya. Beberapa saat kemudian HP-nya mulai bergetar.
"Ini ya nomermu?" tanyanya sambil menunjukkan layar HP-nya kearahku. Karena kami terpisah sekitar 2 meter maka aku tidak bisa melihat nomer itu dengan jelas. Aku berjalan mendekatinya. Tapi tanpa sengaja aku menjatuhkan tasku yang kuletakkan di pagar teras tadi. Buku-buku yang kubawa langsung berserakan di lantai. Aku terpekik tertahan dan segera memunguti buku-bukuku. Untung terjatuh ke arah teras batinku.
"Aku bantu!" kata Taki seraya membungkuk mengambili bukuku. Tapi dia tidak memperhatikan aku yang juga sedang membungkuk sehingga kepala kami berbeturan.
"Aduh!" teriak kami bersamaan. Buku-buku yang aku pengan kembali jatuh berserakan. Rupanya kesialanku masih berlanjut rintihku dalam hati. Kami terduduk di lantai sambil meringis kesakitan. Saat itu baru aku sadar kalau HP-ku sudah tidak mengirim sinyal ke HP-nya.
"Wah, aku telah memencet tombol 'cancel' tadi. Apakah Taki san bisa mengecek nomorku?"
"Tentu saja bisa. Kita lihat saja memori di telpon masuk, pasti ada nomermu."
Oh, iya ya, bodohnya aku. Aku meringis antara malu dan sakit.
"Sepertinya ini nomermu. Coba aku telpon sekarang."
Tepat saat HP-ku bergetar bel tanda kuliah selesai pun terdengar. Aku cepat-cepat mengecek nomor Taki dan segera membereskan buku-buku yang berserakan. Sementara Taki berdiri menunggu teman-temannya keluar dari kelas. Dan ketika mahasiswa di kelas itu keluar kami pun bisa keluar dari teras.
Bencana yang tak bisa kulupakan sampai kapan pun.

====

Sejak bencana itu aku hampir tiap hari bertemu Taki. Selalu saja ketika aku sendiri memikirkan perbedaan langit Surabaya dan langit Matsumoto, Taki tiba-tiba muncul di sampingku. Taki benar-benar berpembawaan ceria. Ada saja ceritanya yang membuat aku banyak berkomentar atau ada saja pertanyaannya yang membuat aku harus menjelaskan secara panjang lebar.

Perasaanku untuk selalu sendiri pun perlahan mulai memudar. Aku mulai bisa menerima kehadiran Taki tanpa rasa jengkel ataupun marah. Aku juga mulai bisa menerima kehadiran teman-teman yang lain. Tapi terbatas hanya teman perempuan. Satu-satunya teman lelakiku hanyalah Taki. Aku sendiri tidak mengerti kenapa aku hanya bisa menerima Taki. Aku bahkan menerima Taki bermain ke dormitoriku. Tentu saja masih di ruang tamu dan dengan Taki yang berbicara panjang lebar kesana kemari semantara aku hanya mendengarkan dengan tekun. Terkadang Taki mengajariku istilah-istilah yang sering dipakai anak muda. Dia juga sering membantuku mengerjakan tugas kampus.

Suatu hari ketika aku sedang berdiri sendiri di teras kampus seperti biasa, tiba-tiba ada batu dingin yang serasa menghantam kepalaku. Aku kaget sekali karena ternyata itu adalah gumpalan salju. Semalam memang salju turun dengan lebatnya hingga hari ini salju menumpuk setinggi 50cm di kota kecil Matsumoto. Pemandangan pertama dalam hidupku kulihat tadi pagi ketika membuka jendela. Aku melihat semuanya putih menyilaukan. Benar-benar membuatku terpukau.

Dan di sini, di teras ini salju juga sedikit tersisa. Mungkin terbawa angin dan menumpuk di lantai teras. Ketika aku sibuk mengingat panorama yang kusaksikan tadi pagi, sebuah gumpalan salju lagi menghantam tepat di keningku. Benar-benar kurang ajar, runtukku. Siapa lagi yang berani melakukan ini kalau bukan Taki. Dan benar saja. Di dekat tempat parkir sepeda, tepat di bawahku, Taki melambaikan tanganya ke arahku. "Ayo turun! Kita main lempar-lemparan salju yuk!" teriaknya.
Aku menggeleng. Tapi ternyata hal itu malah menyebabkan Taki membuat gumpalan salju yang lebih besar dan melemparkannya ke arahku. Aku berhasil menghindar tapi bajuku masih terkena cipratannya. Akhirnya aku tak tahan untuk tidak membalas. Aku segera keluar teras dan turun ke tempat Taki berada.

"Emi! Kamu berhenti di situ! Kita harus beri jarak kira-kira 5 meter. Lalu kita saling melempar ya!" Teriak Taki sambil terus membuat bola salju. Untung perkuliahan sudah selesai sehingga teriakan Taki sama sekali tidak mengganggu.
"Tapi apa gak lebih baik kita bermain di lapangan saja? Di sini kan bahaya kalau kena kaca!" balasku juga berteriak. Taki mengacungkan ibu jarinya tanda setuju. Lalu kami berjalan beriringan menuju lapangan.

Ternyata di lapangan sudah banyak anak lain yang bermain lempar-lemparan salju. Kami segera bergabung dan sebentar saja kami sudah basah kuyup karena bola salju datang bertubi-tubi dari segala arah. Aku dan Taki yang baru pertama kali bermain tidak tahu strategi yang benar.

Dengan menggigil kedinginan Taki menyeret aku menjauhi lapangan. Aku juga kedinginan karena basah kuyup. Kepala dan badanku rasanya sakit semua. Tapi aku merasakan kebahagiaan yang luar biasa. Gairah hidup yang selama ini hilang entah ke mana. Permainan lempar salju mengingatkanku bagaimana cara mempertahankan diri dari ganasnya hidup. Mengingatkanku bahwa aku tidak boleh terus mengikuti arus tanpa punya pegangan. Aku seakan tersadar dari tidur panjangku.

Tiba-tiba aku ingin menangis. Dan aku benar-benar menangis tersedu. Taki yang menggandeng setengah menyeretku terlihat kaget. "Emi kenapa? Kepalamu sakit ya? Atau..."
Taki tak sempat menyelesaikan pertanyaannya karena aku menggenggam tangannya begitu erat. Mungkin dia merasa sakit tapi aku tidak. Tanganku telah terasa kebas oleh dinginnya salju dan juga oleh luapan perasaanku. Aku bergelayut pada sebelah tangan Taki dan menangis sesenggukan di lengannya.

Untuk beberapa saat kami terduduk di tepi jalan yang sepi ditengah hamparan salju yang putih. Sebelah tangan Taki yang bebas membelai lembut rambutku seakan memberi semangat kepadaku. Tak bisa kupungkiri bahwa aku membutuhkan kedua tangan itu. Aku yang telah sendiri dan berusaha selalu sendiri sangat membutuhkan seseorang di sampingku. Aku tiba-tiba merasa letih. Dan luapan perasaanku telah mengalir deras dari mataku.

Setelah puas menangis aku menegadah memandang Taki dengan penuh permohonan maaf. Aku masih belum bisa bicara. Dan kulihat Taki mengisyaratkan kepadaku untuk tidak bicara. Dia membantuku berdiri dan kami kembali melangkah. Kekalutanku membuatku tak tahu arah. Aku hanya menurut ke mana Taki pergi.

Ketika aku sadar aku sudah berada di depan pintu kamar mandi. Taki sedang mempersiapkan air hangat di bathtub. Kemudian dia keluar dan mempersilahkan aku masuk tanpa berkata apapun. Aku segera melepas bajuku yang basah dan segera berendam di air hangat. Berdiam di sana merasakan darahku kembali mengalir di tubuhku yang beku. Merasakan kehidupan kembali mendatangiku.

Aku mulai bisa berpikir jernih. Berpikir tentang semua yang kuinginkan, tentang semua yang kubutuhkan. Aku merasa inilah saatnya menentukan hidupku untuk selanjutnya. Aku menginginkannya. Aku membutuhkannya. Aku harus berani.

Dengan segenap keberanian kugenggam aku keluar dari bathtub dan mengeringkan badan dengan handuk yang telah disediakan Taki. Rupanya selama aku di dalam dia mempersiapkannya juga bajunya yang bisa kupakai sebagai ganti bajuku yang basah. Tuhan berilah kekuatanMu padaku.

Aku keluar dari kamar mandi dan mencarinya. Taki sedang menghangatkan diri di dekat pemanas ruangan. Aku mendekat dan duduk menjajarinya. Kutatap matanya lalu perlahan aku membuka mulutku. "Taki aku suka kamu."

bersambung

*maa shikata nai ka : apa boleh buat
**ryugakusei kaikan : dormitori khusus mahasiswa asing
***apple land : nama supermarket

Labels:

9 Comments:

Post a Comment

<< Home