Surat kepada sang Bulan
Kepada Bulan yg tertutup awan,
Tadi di bumi tempatku tinggal, hujan turun sebentar dengan derasnya. Aku sampai tidak bisa pulang karena derasnya dan karena kebodohanku tidak membawa payung. Sang Bulan, apakah akan sering hujan di hari-hari esok? Jika engkau tahu tolong beri tahu aku karena aku harus bersiap-siap untuk membawa payung ke mana pun aku pergi.
Sang Bulan, setelah hujan aku melihatmu tertutup awan. Apakah kau baik-baik saja? Apakah pengelihatanmu tidak terganggu oleh awan-awan itu?
Tapi meski tertutup awan, kau tetap tampak cantik. Benar-benar mempesona. Seandainya aku bisa melukismu dalam keadaan seperti itu... Engkau menyadarkanku sekali lagi bahwa lukisan Tuhan memang tiada tertandingi. Kami, manusia, betapapun ingin menirunya tetap tidak akan bisa sempurna.
Wahai Rembulan yang tertutup awan,
Aku tahu di atas awan-awan itu engkau tetap bersinar dengan indah. Aku bisa melihat cahyamu di balik awan-awan nakal itu. Aku bisa merasakan kegigihanmu menembus tebalnya awan yg menutupimu. Mengapa kau bisa sekuat itu, sang Rembulan? Apakah engkau tidak bisa membagi sedikit kekuatanmu kepadaku?
Saat ini aku merasa sangat lemah, sendiri, sepi dan terpuruk. Aku lemah karena tidak bisa menentukan apa yang harus kukerjakan. Aku sendiri karena tiada yang bisa kuajak berbagi sehingga aku merasa sepi. Aku terpuruk dalam kebimbangan tiada akhir yang selalu mingikutiku kemanapun aku pergi sejak beberapa bulan ini.
Wahai Rembulan, apakah engkau tahu mengapa hidup ini harus selalu mempunyai banyak pilihan. Aku selalu bimbang jika berhadapan dengan suatu pilihan. Entah karena aku yang terlalu pintar dan terlalu banyak berfikir hingga sulit untuk memilih ataukah aku terlalu bodoh sehingga selalu salah dalam memilih. Aku sudah bosan memilih. Aku capek. Aku sudah tidak ingin memilih lagi. Memilih apapun. Aku ingin semua telah ditetapkan untukku tanpa aku harus memilih lagi.
Tetapi nampaknya semua tak akan sejalan dengan kehendakku. Selama aku masih bernafas, agaknya aku akan terus menemui berbagai macam pilihan. Terus dan terus tiada akhir. Karena itulah aku berharap engkau mau berbagi sedikit kekuatanmu untuk membantuku, wahai Bulan yang penuh kelembutan. Aku ingin kuat, aku ingin tegar meski aku telah salah memilih. Aku tidak ingin terpuruk lebih jauh lagi.
Bulan yang tertutup awan,
aku ingin engkau tahu bahwa aku mengagumimu.
Dari pengagum kecilmu di bumi
Tadi di bumi tempatku tinggal, hujan turun sebentar dengan derasnya. Aku sampai tidak bisa pulang karena derasnya dan karena kebodohanku tidak membawa payung. Sang Bulan, apakah akan sering hujan di hari-hari esok? Jika engkau tahu tolong beri tahu aku karena aku harus bersiap-siap untuk membawa payung ke mana pun aku pergi.
Sang Bulan, setelah hujan aku melihatmu tertutup awan. Apakah kau baik-baik saja? Apakah pengelihatanmu tidak terganggu oleh awan-awan itu?
Tapi meski tertutup awan, kau tetap tampak cantik. Benar-benar mempesona. Seandainya aku bisa melukismu dalam keadaan seperti itu... Engkau menyadarkanku sekali lagi bahwa lukisan Tuhan memang tiada tertandingi. Kami, manusia, betapapun ingin menirunya tetap tidak akan bisa sempurna.
Wahai Rembulan yang tertutup awan,
Aku tahu di atas awan-awan itu engkau tetap bersinar dengan indah. Aku bisa melihat cahyamu di balik awan-awan nakal itu. Aku bisa merasakan kegigihanmu menembus tebalnya awan yg menutupimu. Mengapa kau bisa sekuat itu, sang Rembulan? Apakah engkau tidak bisa membagi sedikit kekuatanmu kepadaku?
Saat ini aku merasa sangat lemah, sendiri, sepi dan terpuruk. Aku lemah karena tidak bisa menentukan apa yang harus kukerjakan. Aku sendiri karena tiada yang bisa kuajak berbagi sehingga aku merasa sepi. Aku terpuruk dalam kebimbangan tiada akhir yang selalu mingikutiku kemanapun aku pergi sejak beberapa bulan ini.
Wahai Rembulan, apakah engkau tahu mengapa hidup ini harus selalu mempunyai banyak pilihan. Aku selalu bimbang jika berhadapan dengan suatu pilihan. Entah karena aku yang terlalu pintar dan terlalu banyak berfikir hingga sulit untuk memilih ataukah aku terlalu bodoh sehingga selalu salah dalam memilih. Aku sudah bosan memilih. Aku capek. Aku sudah tidak ingin memilih lagi. Memilih apapun. Aku ingin semua telah ditetapkan untukku tanpa aku harus memilih lagi.
Tetapi nampaknya semua tak akan sejalan dengan kehendakku. Selama aku masih bernafas, agaknya aku akan terus menemui berbagai macam pilihan. Terus dan terus tiada akhir. Karena itulah aku berharap engkau mau berbagi sedikit kekuatanmu untuk membantuku, wahai Bulan yang penuh kelembutan. Aku ingin kuat, aku ingin tegar meski aku telah salah memilih. Aku tidak ingin terpuruk lebih jauh lagi.
Bulan yang tertutup awan,
aku ingin engkau tahu bahwa aku mengagumimu.
Dari pengagum kecilmu di bumi
Labels: ungkapan hati

5 Comments:
Bulan terharu
pada sapaan manismu.
"Kau juga cantik," kata bulan.
Dan bulan
akan tetap tertutup awan
atas sendiri
atas sepi
atas terpurukmu.
"Kau mesti kuat
menentang tentangan hidup ini,
agar kudapat
menyinari kehidupanmu kembali,"
kata dan janji bulan.
*
Hey, di sendiri dan di sepi juga punya murni dan harmoninya yang tersendiri.
Percayalah! Setiap sesuatu pasti punya waktu. Dan yakinlah!!! Tuhan tak kejam.
*
Hey, rupanya "nazo no Mr D" itu aku ya. Kuklik, fikir "nano nano". Heh, macam aku "nano nano"nya. Hey, apa ertinya "nano nano", eh salah "nono nono" eh salah lagi, "nazo no" itu ya. Mudahan bukan antara "nano nano" dan "nono nono" ya. Kudoa ma Tuhan dulu, tunggu jawabannyaaa
By
Anonymous, at Sat Dec 09, 06:12:00 AM 2006
thank you for the comment.
yup 'nazo no Mr D tu memang anda :)
artinya 'mysterious Mr D'
By
Mee, at Sat Dec 09, 01:35:00 PM 2006
ooo..., makasih atas penjelasannya.
mysterious maksudnya ya.
habis tulis komen ini,
kukena lihat cermin.
pa benar mysterious?!
moga ga menakutkanmu ya.
kalau kamu klik namaku yang ini
pasti terbuang sedikit mysteriousnya ya.
alamat blogmu masih ada ditapal di blogku yang baru kubuka http://qpuisi.blogspot.com seperti yang di 360 itu, semata sebagai kenangan blog pertama yang kubaca beberapa bulan yang baru, yang membuatku juga mahu membuka blogku sendiri, yang mulanya ga pernah kuperhatikan dan perduli, dan aku tetap senang singgah di blogmu ini.
kerana kesederhanaannya.
salam kenal ya.
By
Anonymous, at Sat Dec 09, 06:21:00 PM 2006
hehehhe...
mysterious sebab ku tak tahu siapa anda :D
so tak payah tengok cermin lah...
tengkyu dah link blog saya kat blog anda selalu :)
By
Mee, at Sun Dec 10, 12:19:00 AM 2006
tengkyunya di simpan di dompet ya.
maju jaya untukmu.
By
Anonymous, at Sun Dec 10, 09:19:00 AM 2006
Post a Comment
<< Home