All about Mee in P

Friday, December 22, 2006

Hari ibu

UNTUK SEMUA IBU DI INDONESIA

SELAMAT HARI IBU
WE LOVE YOU ^^

Sebenernya aku pengen ngasih sesuatu untuk para ibu tapi lom jadi.
Ntar kalo dah jadi pasti segera dipostin kok :)

Labels:

Monday, December 18, 2006

Turun lagi :((

Tadi pagi nimbang badan dan menemukan fakta yg sama sekali gak bisa dipercaya.
Berat badanku kembali ke berat sebulan yg lalu sodara-sodara.... Itu artinya aku kembali kurus...hiks...hiks.... Pantesan kok jinsku rasanya longgar lagi :((

Piye to? Padahal aku dah susah payah makan sebanyak-banyaknya kok malah turun lagi!!!! Brarti aku harus makan dan makan lagi??? Cih, menyebalkannn!!! Aku kan males makaaannnnn :((

Kesimpulan hari ini, beratku bertahan naik hanya selama 3 mingguan, setelah itu turun lagi secara drastis dan sekarang dah balik ke berat awal :((

Labels:

Sunday, December 17, 2006

Ngerapiin rambut lagi

Hari ini ngerapiin rambut lagi. ^^
Dipotong dikit lagi, soalnya banyak rambut bercabangnya.
Kalo harus dirapiin terus gini, kapan bisa panjangnya yah...:(
Gpp sih buat ngedapetin rambut sehat.
Tapi meski rajin di rapiin rambutku kok tetep gak sehat yah? Kering n gak bagus bgt. Kadang malah lepek bgt. :(
Kurang konsumsi vitamin kali ya aku nih?

untuk sekedar catatan harian aku posting hal yg ga penting ini, hehehe :p

Labels:

Friday, December 15, 2006

Selamat tinggal Surabaya tercinta

Kemarin ke Jakarta buat interwiev kerja. Pergi pagi langsung balik sore. Alhamdulillah bisa nyampe rumah lagi dengan selamat tanpa mengalami kesulitan yg berarti. Thank God! Ternyata cuapek di perjalanan. Capek di kendaraan, mana pesawatnya pake delay 1 jam lagi. Cih! Akhirnya baru bisa posting hasil wawancara hari ini. :)

Seperti yang jelas2 tertulis di judul postingan ini, aku bertekad bulat untuk hijrah ke Jakarta. InsyaAllah, dengan ijin Allah. Aku diberi waktu 1 bulan buat beresin kerjaan di Surabaya trus gabung ma mereka mulai awal Februari dan aku terima itu.

Entah kenapa aku begitu yakin dengan keputusanku ini begitu selesai omong2an kemarin (lebih tepat emang dibilang ngobrol daripada interview). Padahal selama ini aku dah mengulur2 waktu buat memenuhi pangilan interview itu. Bahkan sehari sebelum brangkat aku dah niat netep di Surabaya selamanya dan bakalan nolak meskipun diterima. Tapi kemarin begitu ngeliat suasana kerja dan kenalan ma teman2 sekerja (eh, masih 'bakal' ding) aku langsung kerasan di sana dan gak ngerasa sama sekali kalo lagi di tempat asing. Aku ngerasa ada di 'rumah' yg sangat nyaman.

Emang sih di sana ada temen seangkatan waktu dapet besiswa di Jepang dan mungkin aku ngerasa nyaman karena dia care bgt ma aku. Tapi bukan hanya itu. Sikap welcome semua teman yg rata2 seumuran ma aku itu yg lebih membuatku tertarik buat gabung. Apalagi kerjaannya keliatan menarik dan penuh tantangan.
Pas masih omong2an ma pimpinan sih sebenernya aku belum begitu yakin untuk gabung tapi setelah diajak ke kantor n kenalan ma semuanya itu tiba2 hatiku dah mutusin tanpa sepengetahuan otakku. Aneh ya? :p

Trus sebelum keputusanku ini berubah karena satu dan lain hal aku dah nyebarin info ke seluruh dunia kalo aku mo pindahan (menurutku dengan ngomong ke siapa aja yg ku kenal aku bakalan lebih ngerasa berkewajiban tuk bener2 pindah...salah satu cara mencagahku berubah pikiran :p). Pertama sms bosku di kursusan yg sekarang. Trus sms teman, and sekarang posting di blog. Kalian kuminta jadi saksi kalo aku dah mutusin buat pergi dan tolong ingetin aku kalo suatu saat (sebelum pergi) aku mulai ragu2. Onegaishimasu! (tolong ya!)

So, hari2 berikutnya aku bakalan sibuk beres2 barangku yg seabrek buat dipisah2in antara yg mau dibawa pindahan, dijual, ditinggal, dihibahin, dibawa pulang dll. Hmmm...sepertinya bakalan ribet. Tapi gpp itu soal kecil. Pasti bakalan cepet beres. *menyemangati diri sendiri karena aku paling gak suka packing buat pindahan:(*

Trus, trus, trus, aku mo refreshing sebelum bener2 memasuki dunia kerja kantoran. Mo ke Bali rekkk!! Mulai 23 Des ampe 1 Jan mungkin. Ada yang niat gabung? Yuks yuks yuks!!! :)

Labels:

Wednesday, December 13, 2006

Selamat Datang Cinta

Aku menaiki tangga sambil menahan dinginnya udara Desember. Kuliah hari ini telah usai tapi aku harus mengumpulkan tugas ke ruang profesorku sebelum jam 5 sore. Aku lirik jam tanganku. Ah, ternyata masih jam 14:35, masih jauh dari kata terlambat dari batas waktu mengumpulkan tugas.

Ruang pribadi profesorku ada di lantai 3. Lumayan sulit menuju ke sana pada jam seperti ini. Sekarang adalah jam istirahat 15 menit diantara perkuliahan yang digunakan sebagai waktu berpindah ruang kuliah. Tak heran jika banyak anak bergerombol turun-naik tangga. Mengingat gedung ini hanya terdiri dari 4 lantai dan lift yang ada sudah sangat tua sehingga lebih cepat menggunakan tangga dari pada lift.

Akhirnya sampai juga aku di depan ruang profesorku. Segera kumasukkan tugasku ke kotak yang telah disediakan. Aku lihat belum ada tugas dari mahasiswa lain. Ternyata aku yang paling rajin untuk minggu ini. Yes! teriakku senang dalam hati.

Urusanku di lantai 3 hanyalah mengumpulkan tugas. Maka setelah selesai aku bergegas berjalan ke arah tangga untuk turun lagi dan segera pulang. Tapi ternyata di tangga masih banyak mahasiswa bergerombol. Kebanyakan mahasiswa pria yang merokok sambil menunggu kuliah mulai. Di kampus ini memang tempat merokok dibatasi di tempat yang disediakan asbak dan tempat sampah khusus rokok. Biasanya tempat itu ada di ujung tangga atau di depan pintu masuk sebuah ruangan.

Aku turun perlahan ke lantai 2. Di ujung tangga lantai 2 ternyata sudah tidak ada mahasiswa yang merokok. Bahkan tak terlihat seorang pun di sini. Tak sengaja aku menoleh ke jendela. Beberapa pucuk pohon terlihat berjajar di langit biru yang cerah. Ah, langit di sini ternyata tidak jauh berbeda dengan langit di negaraku. Tapi ada sesuatu yang menggerakkan hatiku untuk mengamati lebih detail langit itu. Akhirnya aku membuka pintu ke teras yang ada di samping anak tangga teratas.

Angin dingin yang menyegarkan segera menerpa mukaku. Menurut ramalan cuaca yang kudengar di berita radio tadi pagi, hari ini diperkirakan cerah dengan suhu maksimal 5 derajat dan suhu minimal -2 derajat. Biasanya ramalan cuaca di negeri sakura ini tidak meleset. Aku rasa jam-jam sekarang adalah masa 'terhangat' untuk hari ini. Tapi karena aku berada di lantai 2 dengan angin yang lumayan kencang berhembus, tetap saja aku harus merapatkan baju hangatku.

Aku sudah mulai terbiasa dengan suhu dingin kota kecil ini. Pada dasarnya aku memang menyukai daerah dingin. Badanku juga terasa lebih cocok jika tinggal di daerah dingin. Itu juga salah satu alasan aku memilih Perfecture Nagano sebagai tempat belajarku selama 1 tahun. Karena Nagano merupakan daerah dingin dengan pegunungan Alps Utara yang berderet di sebelah barat perfecture ini. Dan ternyata sejak kedatanganku awal Oktober hingga saat ini aku tidak pernah masuk angin karena kedinginan. Ini membuktikan bahwa orang dari daerah tropis sepertiku pun bisa bertahan di daerah dingin.

Sudah 2,5 bulan aku tinggal di sini. Melanjutkan hidup sebagai mahasiswa trainee. Aku yang seharusnya telah lulus di universitas asalku, sengaja menunda kelulusan demi mengejar beasiswa ini. Untunglah pengorbananku tidak sia-sia. Sekarang aku bisa berdiri di sini, memandangi langit di negeri orang yang aku rasa berbeda dengan langit yang kupandang di negara asalku. Dengan bertumpu pada pembatas teras aku mendongak memandangi birunya langit Matsumoto. Hmmm...tidak berbeda dengan birunya langit Surabaya tapi apa ya yang membuatku merasa langit ini berbeda.

Aku sedang berpikir keras ketika tiba-tiba pintu di belakangku terbuka. Seorang laki-laki berumur kira-kira 2 tahun dibawahku (atau mungkin lebih muda, karena anak muda Jepang selalu terlihat lebih dewasa dari pada umurnya) berdiri memegang gagang pintu sambil menggigil kedinginan. Sebelah tangannya yang lain memegangi minuman kaleng yang sepertinya dia gunakan sebagai penghangat tangannya.
"Permisi!"
"Ya" jawabku sambil lalu kemudian mengalihkan pandanganku kembali ke langit. Aku heran kenapa dia harus mengucapkan kata permisi? Dasar orang Jepang yang terlalu sopan. Aku mendengar pintu di belakangku tertutup dan merasakan pemuda itu melewati belakangku bergeser ke sisi kiriku. Ah, rupanya di teras ini juga disediakan kursi dan tempat sampah khusus rokok. Aku tidak menyadarinya tadi.
"Hihhh, dingin, dingin, dingin!" pemuda itu terdengar mengomel lirih sambil duduk di kursi sementara aku sudah lupa tentang apa yang kupikirkan tadi. Yang kuingat hanyalah aku sedang memandangi langit. Oh, iya, aku ingat! Aku tadi sedang berpikir tentang perbedaan langit Surabaya dan langit Matsumoto. Apa yang berbeda ya? Kembali aku berpikir.

"Saya tidak mengganggu kan?"
Ada suara dari sisi kiriku. Oh, iya, tadi kan ada pemuda yang ke teras ini ya. Jadi sekarang aku tidak sendiri di sini. "Tidak" jawabku tanpa menoleh.
"Dingin ya di sini. Saya sebenarnya ada kuliah di kelas sebelah tapi karena saya datang terlambat jadi saya tidak boleh masuk. Saya boleh merokok kan?"

"Silahkan." Anak ini malas sekali. Masa kuliah jam ke-4 bisa terlambat. Apa dia baru bangun jam segini? Lagian sudah tahu terlambat masih sempat membeli minuman kaleng. Meskipun membeli di mesin penjual otomatis kan perlu setidaknya 1 menit untuk mengeluarkan uang, memilih minuman dan mengambilnya. Coba kalau dia datang 1 menit lebih awal, mungkin saja dosen masih mengijinkannya mengikuti kuliah.

"Anda bukan orang Jepang ya? Ah, dilihat pun semua orang pasti tahu ya? Maaf atas pertanyaan bodoh saya. Anda mau merokok?"
"Tidak, terima kasih." Anak ini ternyata banyak omong juga ya. Menyesal aku memperbolehkan dia menggangguku tadi. Sekarang dia bagai mesin motor rusak yang tak berhenti berbunyi drettt dreettt drreeetttt.... Tanpa sadar aku bergeser lebih ke kanan untuk menghindari anak muda itu.
"Eh, anda jangan terlalu ke sana, nanti terlihat dari kelas itu!" kembali terdengar suara mengusik itu.
Tapi ternyata benar, teras ini memanjang sampai ke ujung bangunan dan jika aku terus bergeser ke kanan maka aku akan terlihat dari jendela kelas di depan tangga. Terpaksa aku bergeser kembali ke tempatku semula.
"Nama saya Ryoji Takizawa. Saya datang dari Kyushu. Anda tahu pulau Kyushu kan? Di sana tidak sedingin Matsumoto. Juga tidak turun salju sebanyak di sini. Paling setahun cuma sekali itupun tidak menumpuk. Saya baru tingkat 1 dan masuk universitas April lalu. Ini adalah musim dingin pertama saya di sini. Saya ingin sekali melihat salju di kota ini. Salju di prefecture ini terkenal loh. Halus, lembut, dan sangat ringan. Itu karena udara di sini sangat bersih. Oh, ya, anda datang dari mana? Nama anda siapa?"

Wah, wah, wah, ternyata benar-benar bencana menerima anak ini bersamaku di teras ini. Baru kali ini aku bertemu orang Jepang yang nyerocos begitu panjang ketika baru pertama kali bertemu orang asing. Aku jadi curiga apakah dia sedang mabuk ya? Biasanya anak-anak muda Jepang menjadi hilang kendali dan sangat berani ketika sedang mabuk. Tapi masa siang bolong begini dia sudah mabuk?

Aku tidak segera menjawab pertanyaannya tapi aku menoleh ke arahnya. Sebenarnya aku hanya ingin mengecek minuman yang dibawanya. Jangan-jangan itu minuman beralkohol. Tapi ternyata bukan, hanya kopi instan kalengan. Dia tersenyum sambil memandangku. Wajahnya ternyata tidak seberapa jelek, mungkin bisa dibilang imut-imut untuk ukuran anak muda Jepang. Tapi tunggu dulu! Dia bilang tadi mahasiswa tingkat 1? Berarti masih sekitar 19 tahun? Hah? Tidak bisa dipercaya 19 tahun dengan wajah seperti itu. Aku pikir tadi dia sudah mendekati 21 tahun. Tapi dandanannya memang anak muda sekali. Rambutnya ditata ke atas sedemikian rupa dan tampaknya diberi gel karena rambut itu tidak bergerak sedikit pun meski angin bertiup cukup kencang. Memakai dobel kaos tanpa kerah (kaos lengan panjang dirangkap kaos lengan pendek di luarnya), celana jeans. Tasnya tergeletak di kursi kosong di sebelahnya. Aku langsung terbelalak melihat tasnya. Itu kan tas yang biasa dibawa cewek? Oh iya, aku lupa kalo sekarang sedang berada di Jepang dan cowok Jepang memang suka memakai tas yang kadang desainnya seperti tas cewek. Rupanya dia sadar kalau aku terkejut melihat tasnya. Dia segera melihat tasnya.
"Maaf!" kataku merasa sedikit tidak enak. "Saya Emi dari Indonesia."
"Emi? Seperti nama orang Jepang ya? Engg, Indonesia tuh di mana ya?"
Ya Tuhan selamatkan aku dari anak cerewet ini. "Indonesia tuh yang ada Balinya ya. Maaf, aku harus pergi sekarang." Pamitku terburu-buru. Aku segera menuju pintu dan menariknya. Tapi kok tidak bisa terbuka ya? Aku coba lagi dan lagi. Aku coba dorong juga tidak bisa. Wah bagaimana ini? Aku mulai ketakutan. Bagaimana kalau aku tidak bisa keluar dari sini? Apakah aku harus sampai besok pagi bersama anak cerewet ini? Ya Tuhan, please jangan Kau siksa aku seperti itu!

"Sepertinya pintu itu tidak bisa dibuka dari teras ya? Wah bagaimana ini? Terpaksa kita harus menunggu jam ganti perkuliahan untuk menunggu seseorang yang bisa membukakan pintu ini. Aduh, padahal di sini dingin ya?" kata anak itu dengan tanpa kekhawatiran malah terkesan senang. Anak itu memang dari wajahnya sudah terlihat kalau dia ceria.

Ya Tuhan, dosa apa yang telah kuperbuat hingga aku harus terkunci di teras dingin bersama seorang anak muda yang cerewet ini, rintihku dalam hati. Maa, shikatanai ka!* Tapi sekarang baru jam 15:00 padahal kuliah ke-4 selesai jam 16:15. Berarti aku harus bertahan berasama anak ini 75 menit lagi? Aduh! Bencana besar pertama yang menimpaku sejak kedatanganku di negara ini. Semoga ada orang yang lewat tangga sebentar lagi. Aku terus berdiri menghadap jendela, berharap ada orang lewat yang akan menolongku keluar dari teras ini.

Tapi 10 menit berlalu tanpa ada orang yang lewat. Aku capek bediri, tapi aku tidak ingin duduk dekat anak itu. Dia pasti mengajakku mengobrol lagi kalo aku duduk di dekatnya. Dan dia merokok! God! Aku benci sekali asap rokok. Lengkap sudah penderitaanku hari ini. Aku mencoba mengingat-ingat hari apa hari ini. Oh, iya, hari Jumat. Berarti bukan hari pasaran kelahiranku. Tapi jangan-jangan ini Jumat Kliwon. Kalo betul berarti besok adalah Sabtu Legi, hari pasaran kelahiranku. Apa benar karena besok kelahiranku aku jadi sial begini? Ah, pasti itu hanya kepercayaan. Dari pada berpikir tentang hal yang aneh seperti itu lebih baik aku berpikir bagaimana caranya keluar dari malapetaka ini.

"Eh, dari tadi kamu kelihatan gelisah, kenapa sih?"
"Tidak apa-apa." kataku berbohong. Gawat! Cara bicara bocah ini telah berubah dari bahasa sopan ke bahasa teman. Tanda-tanda buruk. Dalam bahasa Jepang jika baru pertama kali bertemu seseorang harus berbicara dalam bahasa sopan. Jika sudah akrab dan dekat seperti teman baru bisa menggunakan gaya bahasa biasa. Jadi kalau ada orang yang menggunakan gaya bahasa biasa pada saat pertama kali bertemu itu pertanda orang yang sok akrab. Aku yang penyendiri paling tidak bisa menghadapi orang yang sok akrab.

"Kamu tidak bisa kena asap rokok ya?" dia bertanya lagi.
"Iya"
"Kenapa tidak bilang dari tadi. Ok, aku matikan deh."
Lega juga akhirnya dia mau mematikan rokoknya.
"Eh, Emi san! Emi san ya tadi namamu?"
"Ya." jawabku masih dengan enggan. Duh, kenapa dia tidak paham kalau aku ingin sendiri dan tidak ingin diganggu ya.... Aku kembali berdiri bertumpu pada pagar teras tepat di depan pintu.
"Mau kopi?" Dia kini membuka kopi instan kalengan yang dari tadi dipegang untuk menghangatkan tangannya. "Cuma satu sih. Tapi kita bisa berbagi kan? Hehehe..."
"Tidak, terima kasih."
"Eh, Emi san, Indonesia itu negara yang bagaimana sih? Ayo cerita dong tentang Indonesia!"
"Indonesia adalah negara yang panas." jawabku singkat masih tanpa minat.
"Oooo...!" dia ber-o panjang. "Seberapa panasnya? Seperti Okinawa begitu? Tahu Okinawa kan?"
"Lebih panas lagi. Paling panas mungkin sama suhunya dengan musim panas di Tokyo."
"Wah panas sekali ya. Apakah ada nanas di sana?"
"Ada. Nanasnya enak." Anak ini pernah mendapat pelajaran Geografi tidak ya, pikirku. Masa tidak tahu di mana letak Indonesia, tidak tahu nanas bisa tumbuh di mana dsb. "Anda mahasiswa fakultas sastra juga?" tanyaku penasaran.
"Iya. Jurusan 'Manusia dan Informasi'. Kamu jurusan apa? Oh, iya, ngobrol biasa aja, gak usah terlalu sopan gitu. Ya? Paling kita seumur kan?"
"Aku mahasiswa trainee. Belajar bahasa Jepang di sini selama 1 tahun. Aku juga baru datang. Masih 2,5 bulan." Aku kaget mendengar kata-kata yang keluar dari mulutku. Kok aku bisa bicara sebanyak itu yah? Dengan orang yang baru kukenal lagi. Kenapa ya?
"Baru datang? Kalau begitu belum pernah melihat salju ya?"
"Iya. Negaraku sangat panas jadi tidak mungkin turun salju. Rasanya mungkin seperti musim panas sepanjang tahun." Kembali aku berbicara panjang lebar tanpa bisa aku rem. Apakah ini pengaruh langit biru yang cerah? Atau karena keceriaan lawan bicaraku sehingga aku terseret untuk berbicara lebih banyak. Selama ini aku tidak pernah berbicara sebanyak ini dengan orang yang baru kukenal.
"Eng, maaf nama anda siapa tadi?" Nah, nah! Sekarang aku malah menanyakan nama anak itu. Apa perlunya coba? Yah, sekedar untuk dikenang bahwa aku pernah terjebak di teras lantai 2 kampus yang dingin, pembelaanku.
"Ryoji Takizawa. Panggil saja aku Taki. Teman-temanku biasa memanggilku begitu." jawabnya sembari tersenyum. Ternyata senyumnya manis juga. "Emi san tinggal di mana?"
"Di Ryugakusei kaikan**."
"Oh, yang dekat Apple Land*** itu ya? Aku juga tinggal dekat situ. Tahu jalan di sebelah Apple Land kan? Nah jalan itu masuk sampai ujung dan aku tinggal di rumah susun di kiri jalan. Dekat kan? Kapan-kapan main ke tempatku ya. Tapi kamu telpon dulu soalnya aku harus bersih-bersih rumah sebelum menerima tamu. Hehehe... maklum cowok males bersih-bersih. Aku juga boleh main ke tempatmu kan?"

Aku sempat berpikir Taki bukanlah orang Jepang. Orang Jepang yang kutemui selama ini tidak ada yang seagresif dia. Aku jadi bingung harus menjawab apa. Kalo aku menjawab boleh pasti dia akan serius main ke dormitoriku. Meskipun sebenarnya itu adalah basa-basi. Tapi apakah aku harus menjawab tidak? Apa alasanku melarangnya main ke tempatku? "Emm...boleh. Tapi sebelum datang tolong telpon aku dulu. Taki san tunggu di ruang tamu nanti aku turun ke sana." jawabku akhirnya setelah bimbang beberapa lama. Jawabanku ternyata melegakan hati Taki karena dia tersenyum manis sekali setelah mendengarnya.
"Ok!" jawabnya ceria. "Kalau begitu kita tukeran nomer HP yah. Enggg...nomerku..."dia mengeluarkan HP dan menyebutkan beberapa angka. Aku buru-buru mengeluarkan HP-ku juga untuk mencatat nomer HP-nya. Tapi karena tidak tercatat maka aku memintanya untuk mengulang.
"Ok? Sekarang nomer HP-mu berapa?" tanyannya.
"Emmmm...aku tidak hafal nomerku dan aku tidak tahu harus mencari datanya di mana?"
"Ok, begini saja. Kamu telpon aku sekarang. Nomermu nanti pasti akan muncul di HP-ku."

Aku menurut saja apa kata-katanya. Ketika terdengar nada sambung aku melihat ke arahnya. Beberapa saat kemudian HP-nya mulai bergetar.
"Ini ya nomermu?" tanyanya sambil menunjukkan layar HP-nya kearahku. Karena kami terpisah sekitar 2 meter maka aku tidak bisa melihat nomer itu dengan jelas. Aku berjalan mendekatinya. Tapi tanpa sengaja aku menjatuhkan tasku yang kuletakkan di pagar teras tadi. Buku-buku yang kubawa langsung berserakan di lantai. Aku terpekik tertahan dan segera memunguti buku-bukuku. Untung terjatuh ke arah teras batinku.
"Aku bantu!" kata Taki seraya membungkuk mengambili bukuku. Tapi dia tidak memperhatikan aku yang juga sedang membungkuk sehingga kepala kami berbeturan.
"Aduh!" teriak kami bersamaan. Buku-buku yang aku pengan kembali jatuh berserakan. Rupanya kesialanku masih berlanjut rintihku dalam hati. Kami terduduk di lantai sambil meringis kesakitan. Saat itu baru aku sadar kalau HP-ku sudah tidak mengirim sinyal ke HP-nya.
"Wah, aku telah memencet tombol 'cancel' tadi. Apakah Taki san bisa mengecek nomorku?"
"Tentu saja bisa. Kita lihat saja memori di telpon masuk, pasti ada nomermu."
Oh, iya ya, bodohnya aku. Aku meringis antara malu dan sakit.
"Sepertinya ini nomermu. Coba aku telpon sekarang."
Tepat saat HP-ku bergetar bel tanda kuliah selesai pun terdengar. Aku cepat-cepat mengecek nomor Taki dan segera membereskan buku-buku yang berserakan. Sementara Taki berdiri menunggu teman-temannya keluar dari kelas. Dan ketika mahasiswa di kelas itu keluar kami pun bisa keluar dari teras.
Bencana yang tak bisa kulupakan sampai kapan pun.

====

Sejak bencana itu aku hampir tiap hari bertemu Taki. Selalu saja ketika aku sendiri memikirkan perbedaan langit Surabaya dan langit Matsumoto, Taki tiba-tiba muncul di sampingku. Taki benar-benar berpembawaan ceria. Ada saja ceritanya yang membuat aku banyak berkomentar atau ada saja pertanyaannya yang membuat aku harus menjelaskan secara panjang lebar.

Perasaanku untuk selalu sendiri pun perlahan mulai memudar. Aku mulai bisa menerima kehadiran Taki tanpa rasa jengkel ataupun marah. Aku juga mulai bisa menerima kehadiran teman-teman yang lain. Tapi terbatas hanya teman perempuan. Satu-satunya teman lelakiku hanyalah Taki. Aku sendiri tidak mengerti kenapa aku hanya bisa menerima Taki. Aku bahkan menerima Taki bermain ke dormitoriku. Tentu saja masih di ruang tamu dan dengan Taki yang berbicara panjang lebar kesana kemari semantara aku hanya mendengarkan dengan tekun. Terkadang Taki mengajariku istilah-istilah yang sering dipakai anak muda. Dia juga sering membantuku mengerjakan tugas kampus.

Suatu hari ketika aku sedang berdiri sendiri di teras kampus seperti biasa, tiba-tiba ada batu dingin yang serasa menghantam kepalaku. Aku kaget sekali karena ternyata itu adalah gumpalan salju. Semalam memang salju turun dengan lebatnya hingga hari ini salju menumpuk setinggi 50cm di kota kecil Matsumoto. Pemandangan pertama dalam hidupku kulihat tadi pagi ketika membuka jendela. Aku melihat semuanya putih menyilaukan. Benar-benar membuatku terpukau.

Dan di sini, di teras ini salju juga sedikit tersisa. Mungkin terbawa angin dan menumpuk di lantai teras. Ketika aku sibuk mengingat panorama yang kusaksikan tadi pagi, sebuah gumpalan salju lagi menghantam tepat di keningku. Benar-benar kurang ajar, runtukku. Siapa lagi yang berani melakukan ini kalau bukan Taki. Dan benar saja. Di dekat tempat parkir sepeda, tepat di bawahku, Taki melambaikan tanganya ke arahku. "Ayo turun! Kita main lempar-lemparan salju yuk!" teriaknya.
Aku menggeleng. Tapi ternyata hal itu malah menyebabkan Taki membuat gumpalan salju yang lebih besar dan melemparkannya ke arahku. Aku berhasil menghindar tapi bajuku masih terkena cipratannya. Akhirnya aku tak tahan untuk tidak membalas. Aku segera keluar teras dan turun ke tempat Taki berada.

"Emi! Kamu berhenti di situ! Kita harus beri jarak kira-kira 5 meter. Lalu kita saling melempar ya!" Teriak Taki sambil terus membuat bola salju. Untung perkuliahan sudah selesai sehingga teriakan Taki sama sekali tidak mengganggu.
"Tapi apa gak lebih baik kita bermain di lapangan saja? Di sini kan bahaya kalau kena kaca!" balasku juga berteriak. Taki mengacungkan ibu jarinya tanda setuju. Lalu kami berjalan beriringan menuju lapangan.

Ternyata di lapangan sudah banyak anak lain yang bermain lempar-lemparan salju. Kami segera bergabung dan sebentar saja kami sudah basah kuyup karena bola salju datang bertubi-tubi dari segala arah. Aku dan Taki yang baru pertama kali bermain tidak tahu strategi yang benar.

Dengan menggigil kedinginan Taki menyeret aku menjauhi lapangan. Aku juga kedinginan karena basah kuyup. Kepala dan badanku rasanya sakit semua. Tapi aku merasakan kebahagiaan yang luar biasa. Gairah hidup yang selama ini hilang entah ke mana. Permainan lempar salju mengingatkanku bagaimana cara mempertahankan diri dari ganasnya hidup. Mengingatkanku bahwa aku tidak boleh terus mengikuti arus tanpa punya pegangan. Aku seakan tersadar dari tidur panjangku.

Tiba-tiba aku ingin menangis. Dan aku benar-benar menangis tersedu. Taki yang menggandeng setengah menyeretku terlihat kaget. "Emi kenapa? Kepalamu sakit ya? Atau..."
Taki tak sempat menyelesaikan pertanyaannya karena aku menggenggam tangannya begitu erat. Mungkin dia merasa sakit tapi aku tidak. Tanganku telah terasa kebas oleh dinginnya salju dan juga oleh luapan perasaanku. Aku bergelayut pada sebelah tangan Taki dan menangis sesenggukan di lengannya.

Untuk beberapa saat kami terduduk di tepi jalan yang sepi ditengah hamparan salju yang putih. Sebelah tangan Taki yang bebas membelai lembut rambutku seakan memberi semangat kepadaku. Tak bisa kupungkiri bahwa aku membutuhkan kedua tangan itu. Aku yang telah sendiri dan berusaha selalu sendiri sangat membutuhkan seseorang di sampingku. Aku tiba-tiba merasa letih. Dan luapan perasaanku telah mengalir deras dari mataku.

Setelah puas menangis aku menegadah memandang Taki dengan penuh permohonan maaf. Aku masih belum bisa bicara. Dan kulihat Taki mengisyaratkan kepadaku untuk tidak bicara. Dia membantuku berdiri dan kami kembali melangkah. Kekalutanku membuatku tak tahu arah. Aku hanya menurut ke mana Taki pergi.

Ketika aku sadar aku sudah berada di depan pintu kamar mandi. Taki sedang mempersiapkan air hangat di bathtub. Kemudian dia keluar dan mempersilahkan aku masuk tanpa berkata apapun. Aku segera melepas bajuku yang basah dan segera berendam di air hangat. Berdiam di sana merasakan darahku kembali mengalir di tubuhku yang beku. Merasakan kehidupan kembali mendatangiku.

Aku mulai bisa berpikir jernih. Berpikir tentang semua yang kuinginkan, tentang semua yang kubutuhkan. Aku merasa inilah saatnya menentukan hidupku untuk selanjutnya. Aku menginginkannya. Aku membutuhkannya. Aku harus berani.

Dengan segenap keberanian kugenggam aku keluar dari bathtub dan mengeringkan badan dengan handuk yang telah disediakan Taki. Rupanya selama aku di dalam dia mempersiapkannya juga bajunya yang bisa kupakai sebagai ganti bajuku yang basah. Tuhan berilah kekuatanMu padaku.

Aku keluar dari kamar mandi dan mencarinya. Taki sedang menghangatkan diri di dekat pemanas ruangan. Aku mendekat dan duduk menjajarinya. Kutatap matanya lalu perlahan aku membuka mulutku. "Taki aku suka kamu."

bersambung

*maa shikata nai ka : apa boleh buat
**ryugakusei kaikan : dormitori khusus mahasiswa asing
***apple land : nama supermarket

Labels:

Monday, December 11, 2006

Suntuk...:(

Dari kemarin suntuk. Penyebabnya? Banyak banget. Belum bikin paper, belum nulis essay yg deadline-nya besok, belum siap2 buat ngajar jam 2 nanti juga yg besok, belum bikin materi buat Rabu dan Jumat, dan banyak belum2 yg lain.

Trus juga ngerasa down banget karena merasa sendirian. Rasanya dari kemarin semua temenku pada berada jauh di ujung dunia yg gak bisa kugapai. (Meski aku tulis 'semua' tapi sebenarnya hanya bisa dihitung dengan jari sebelah tangan... jadi sadar betapa sedikitnya temenku...hiks...) Dengan segala urusan mereka yg ga bisa diganggu gugat.

Ngibur diri dengan jalan2 di internet tapi ternyata cara ini gak manjur. Dengerin lagu fav yg biasanya ngasih semangat ternyata juga tidak membantu, malah tambah sedih. Ngomong2 dewe memberi motivasi ke diri sendiri tetep gak mempan. Mengingatkan diri bahwa deadline essay adalah besok jadi harus segera dikerjakan tapi ide gak ada jadi ya...tetep gak bisa nulis. Trus gimana maunya aku ini?

Somebody help me!!!! :((

Labels:

Sunday, December 10, 2006

Rindunyeeeeee!!!!!!!!

Liat2 diary taun 2002, masa aku masih baru nyampe Jepang, masa masih jadi mahasiswa.

10 Desember 2002
Salju masih menumpuk karena tumpukan salju setinggi 20cm akibat hujan salju tgl 8 malam yg belum cair ditambah ma hujan salju semalam. Jadilah aku masih bisa menyaksikan pemandangan yg gak mungkin aku liat di Ina tercinta. Semuanya putih, putih, dan putih menyilaukan. :) Duingin tapi bahagia bisa hidup dikelilingi salju. (keliatannya aku aja yg seneng soalnya orang lain pada sibuk bersihin salju biar tetep bisa gunain jalanan sementara aku malah jalan2 santai nginjek2 salju dan main2 ndirian)
Hari ini latihan lagu baru di club paduan suara. Dingin2 tapi tetep semangat.


Gak kerasa kejadian itu adalah kejadian 4 tahun yg lalu. Aku kangen banget ma salju. Kangen banget ma kota kecil Matsumoto. Kangen banget ma teman2 di sana. Teman2 dari berbagai negara yg skg pada sibuk dengan kegiatannya masing2. Ada yg dah gawe, ada yg masih sekul dll.
Kangen juga ma konco plek dari Malaysia. M sekarang tengah buat apa? Knapa x pernah online kat YM? Ronbun de isogashii no? Rindunye saye ni nak jalan2 ngan M lagi, pergi2 karaoke lagi, shoping2 lagi... hiks.... X sempat bermain salju dengan M sebab saye dah balik aki yer? Bila kita boleh main salju sama2? :(( Bila2 datang kat Indon yer!!! PLEASE!!!

Hiks...hiks...ngapain aku tadi buka2 diary lama yah...jadi tambah sedih gini jadinya :((
Ya Allah berilah kesempatan kepadaku untuk menikmati lembutnya salju lagi. Amin.

Labels:

Friday, December 08, 2006

Surat kepada sang Bulan

Kepada Bulan yg tertutup awan,

Tadi di bumi tempatku tinggal, hujan turun sebentar dengan derasnya. Aku sampai tidak bisa pulang karena derasnya dan karena kebodohanku tidak membawa payung. Sang Bulan, apakah akan sering hujan di hari-hari esok? Jika engkau tahu tolong beri tahu aku karena aku harus bersiap-siap untuk membawa payung ke mana pun aku pergi.

Sang Bulan, setelah hujan aku melihatmu tertutup awan. Apakah kau baik-baik saja? Apakah pengelihatanmu tidak terganggu oleh awan-awan itu?
Tapi meski tertutup awan, kau tetap tampak cantik. Benar-benar mempesona. Seandainya aku bisa melukismu dalam keadaan seperti itu... Engkau menyadarkanku sekali lagi bahwa lukisan Tuhan memang tiada tertandingi. Kami, manusia, betapapun ingin menirunya tetap tidak akan bisa sempurna.

Wahai Rembulan yang tertutup awan,
Aku tahu di atas awan-awan itu engkau tetap bersinar dengan indah. Aku bisa melihat cahyamu di balik awan-awan nakal itu. Aku bisa merasakan kegigihanmu menembus tebalnya awan yg menutupimu. Mengapa kau bisa sekuat itu, sang Rembulan? Apakah engkau tidak bisa membagi sedikit kekuatanmu kepadaku?

Saat ini aku merasa sangat lemah, sendiri, sepi dan terpuruk. Aku lemah karena tidak bisa menentukan apa yang harus kukerjakan. Aku sendiri karena tiada yang bisa kuajak berbagi sehingga aku merasa sepi. Aku terpuruk dalam kebimbangan tiada akhir yang selalu mingikutiku kemanapun aku pergi sejak beberapa bulan ini.

Wahai Rembulan, apakah engkau tahu mengapa hidup ini harus selalu mempunyai banyak pilihan. Aku selalu bimbang jika berhadapan dengan suatu pilihan. Entah karena aku yang terlalu pintar dan terlalu banyak berfikir hingga sulit untuk memilih ataukah aku terlalu bodoh sehingga selalu salah dalam memilih. Aku sudah bosan memilih. Aku capek. Aku sudah tidak ingin memilih lagi. Memilih apapun. Aku ingin semua telah ditetapkan untukku tanpa aku harus memilih lagi.

Tetapi nampaknya semua tak akan sejalan dengan kehendakku. Selama aku masih bernafas, agaknya aku akan terus menemui berbagai macam pilihan. Terus dan terus tiada akhir. Karena itulah aku berharap engkau mau berbagi sedikit kekuatanmu untuk membantuku, wahai Bulan yang penuh kelembutan. Aku ingin kuat, aku ingin tegar meski aku telah salah memilih. Aku tidak ingin terpuruk lebih jauh lagi.

Bulan yang tertutup awan,
aku ingin engkau tahu bahwa aku mengagumimu.


Dari pengagum kecilmu di bumi

Labels:

Wednesday, December 06, 2006

Pola makan

Akhirnya hari ini aku bisa kembali ke pola makanku yg sebelumnya yaitu 1 kali sehari. Setelah selama hampir 1,5 bulan aku tersiksa karena harus banyak makan dan harus menerapkan pola makan sehat 3 kali sehari dalam rangka program penggemukan.

Akhir2 ini karena berat badanku telah mencapai target (bahkan lebih 1 kg) maka aku memutuskan untuk mulai gak banyak makan lagi. Meski banyak pihak yg tidak menyadari kegemukanku, meski banyak orang bilang aku masih kurang gemuk tapi aku dah putuskan tuk tidak menambah berat badan lagi. Makan hanya bila lapar dan berusaha untuk gak banyak nyamil. Kalo nyamil coklat sih itu bisa dimaafkan karena coklat adalah camilan wajib. :p

Susah kalo berat badanku nambah terus, karena celana kerjaku dah mulai gak bisa dipake. Artinya aku harus beli celana baru ato alternatif lain aku harus pake rok. Tapinya lagi, kalo pake rok aku harus beli sepatu baru yg matching ma rok. Nah ini susahnya, karena aku gak punya anggaran baik untuk keadaan pertama maupun keadaan kedua. :(

Tapi ternyata kebiasaan baruku untuk banyak makan dan makan teratur ini susah untuk dihentikan. Pada jam2 makan pasti perutku meronta-ronta minta diisi. Dan sedihnya aku gak bisa lagi menahan rengekan perutku akhir2 ini. Dulu sih mau meronta kayak apa pun aku bisa menahan dan nyuekin tapi sekarang .... susahnyaaaa!!!!!!!!!!! Belum lagi keinginan untuk nyamil. Parah pokoknya.

Dan hari ini aku berhasil makan cuma sekali...meski akhirnya gak ada artinya karena malam aku minum jus apukat yg kuentel dan mengandung banyak lemak dan kolesterol. :(
Tapi gpp, gpp, masih ada hari esok yg lebih cerah. :)
Semangat! Semangat! Pasti aku bisa mempertahankan berat badanku yg sekarang supaya gak naik atau pun turun lagi. :)

Labels:

Sunday, December 03, 2006

Nihongo Noryoku Shiken

Hari ini ikut ujian Nihongo Noryoku Shiken (sejenis TOEFL tapi untuk bhs Jepang...bhs Inggris-nya ada kok tapi aku lupa :p).

Susahhhhh :((
Ketahuan kalo aku kurang belajar. Sebenernya gak seberapa susah tapi ya itu karena aku gak pernah belajar aku jadi ngerasa susah. Apalagi yg bagian vocabulary terutama yg bagian huruf kanji...matek (baca : mati) gak bisa sama sekali :((

Ada beberapa orang yang bilang ujian tahun lalu lebih susah (aku gak tahu karena aku gak ikut tahun lalu). Tapi dari pengalaman selama ini kok aku ngerasa kali ini susah2 ya...
Yappa benkyou busoku kanaaa... (Emang bener kurang belajar kali yaaa...)

Tahun depan harus ikut lagi dehhh!!!!!!!!!!

Labels:

Saturday, December 02, 2006

Demi kamu

WARNING!!!
Cerita ini fiktif belaka. Jika ada kesamaan nama, tempat, kejadian semuanya hanya kebetulan dan tidak ada faktor kesengajaan. (Mungkin juga itu yg ngasih inspirasi ke aku sih :p)


“Makasih ya, kamu mau nemenin aku. Kamu baik banget sih!” kataku ketika kita selesai pesan makanan di warung lesehan sehabis nonton bareng. Kamu hanya tersenyum manis menanggapi kata-kataku. Ayo dong, ngomong sesuatu! Kalo kamu diem aja, aku nih yang bakalan ngomong. Tapi kamu tetap diam sambil melipat sapu tangan yang kamu pakai menutupi wajah saat naik motor tadi.

“Kamu tetep mau jadi temenku dan baik sama aku kan, kalo aku jadi suka sama kamu?” tanyaku akhirnya karena kamu gak ngomong apa-apa. Sebenarnya aku berharap kamu ngomong sesuatu supaya pertanyaanku itu gak meluncur dari mulutku.

Tepat seperti dugaanku, kamu menoleh kaget ke arahku saat pertanyaan tadi selesai kuucapkan. Kamu menatap lekat mataku seakan mencari kebohongan di sana. Aku sempat kelimpungan menerima pandangan matamu, tetapi kuusahakan untuk tetap tersenyum dan melihat bola matamu dengan sungguh-sungguh.

“Kamu gak salah makan ato minum obat kan?” tanyamu di tengah kekagetanmu.

“Ya, enggak lah! Ini juga baru pesen makanan. Tuh lagi dibikinin sama masnya. Lagian aku gak sakit kok, jadi gak minum obat apapun.” Kamu membuatku tertawa dengan pertanyaanmu yang lucu. Lalu kamu ikut tersenyum melihat aku tertawa terpingkal-pingkal. Dan kekagetanmu mulai memudar seiring dengan semakin melebarnya senyumanmu.

“Habisnya pertanyaanmu aneh banget sih. Tiba-tiba lagi!” katamu sambil mengisyaratkan supaya aku berhenti tertawa.

“Aku bener-bener serius dengan pertanyaanku tadi.” kataku setelah aku tenang. Kembali aku duduk dan tersenyum tenang. “Memang belum berapa lama kita kenal dan akrab. Tapi selama ini aku merasa cocok ngobrol ma kamu. Merasa nyaman keluar ato jalan ma kamu. Meski aku tau aku belum tau semua tentang kamu tapi aku merasa bahwa aku menyukai kamu. Seperti halnya seorang wanita menyukai seorang pria tentunya. Lebih dari rasa suka sebagai seorang teman. Kamu ngerti maksudku kan?”

Wajahmu kembali menunjukkan keterkejutan. Duuhhh…kamu tuh lucu banget sih. Lihat wajahmu yang polos itu. Lihat juga bibirmu yang memerah karena tak pernah tersentuh rokok. Dan lihat matamu yang gede dengan bola mata yang berputar kesana-kemari. Ngegemesin banget tahu!

Saat itu minuman yang kita pesan datang. Segera kamu seruput es teh pesanan kamu. Kok jadi kamu yang kehausan yah? Padahal aku kan yang ngomong banyak. Aku juga ikut meminum es jeruk pesananku. Lalu ketika aku mau melanjutkan ucapanku, kulihat kamu mau mengatakan sesuatu.

“Jujur saja aku seneng banget cewek semanis kamu jatuh suka ma aku.” Duh, kamu kok bisa ngerayu juga ternyata ya. Pipiku kan jadi terasa panas karena kamu ngomong gitu. Sebelum kamu lihat perubahan di wajahku, buru-buru kujatuhkan mukaku pura-pura meneyeruput esku lagi.

“Tapi ya…kamu kan tau sendiri kalo aku punya seseorang yang aku tunggu. Aku ga bisa menyukaimu lebih dari seorang temen. Kamu ngerti kan? Aku sudah bercerita banyak tentang dia kan?”

Duuhhh… kamu straight banget sih nolaknya. Aku kan jadi patah hati dengan sukses. Untung aja aku dah bawa persiapan lem hati dari rumah. Tapi meski begitu, tak urung hilang juga senyum di wajahku dan dudukku pun jadi jengah.

“Aku tahu kok. Aku juga sadar kamu ga bakalan bales perasaanku seperti yang aku rasakan ke kamu. Karena itulah aku suka kamu. Kamu baik kepada siapapun tetapi tetap setia menunggu seseorang yang kamu pilih. Sungguh beruntung cewek pilihanmu itu ya.” kataku setelah berhasil menata hatiku dan kembali tersenyum. Aku ga mau mewek di depan kamu. Aku dah siap ngomong jujur ke kamu dan siap dengan segala penolakanmu. Jadi aku berusaha untuk tetap tersenyum. “Aku hanya ingin ngungkapin perasaanku ke kamu. Aku gak pengen kamu dengar tentang ini dari orang lain trus kamu jadi jaga jarak sama aku. Aku gak pengen kehilangan seorang teman. Makanya aku tanya ke kamu tadi. Aku berharap kamu tetap mau jadi temanku, tetep baik ma aku meski dah tau gimana perasaan khususku ma kamu. Kamu gak usah merasa bersalah karena ga bisa bales perasaanku. Bukan salahmu kan kalo aku jadi suka kamu. Juga bukan salahmu kalo kamu suka orang lain. Gak ada yang salah di antara kita. Makanya kita masih bisa tetep berteman. Betul?”

Kamu kelihatan agak berpikir. Aku tahu kamu pasti ngerasa gak enak karena tiba-tiba muncul perasaan lain di hatiku terhadap kamu. Tapi seperti yang aku omongin tadi, gak ada yang salah dengan rasa suka kan? Kamu gak salah juga nolak aku karena dah ada seseorang yang kamu tunggu. Ketika akhirnya kamu bicara, “Tentu saja kita masih tetap bisa berteman. Jangan khawatir!”

Akhirnya aku bisa tersenyum lega mendengar jawabanmu itu. Juga karena bisa melihat kamu tersenyum manis. Senyum termanis darimu yang pernah aku lihat.

Ketika makanan pesanan kita datang, kitapun bisa makan dengan tenang dan berbicara seperti biasa.

***

Tetapi minggu-minggu kemudian keanehan mulai terjadi. Kamu jadi jarang membalas smsku. Kamu juga sering menghindar ketika aku menelponmu. Bahkan ketika aku minta tolong untuk ngater aku ke toko buku, kamu nolak dengan alasan kamu lembur di kantor. Ada apa sih dengan kamu? Katamu kita masih bisa berteman? Katamu kamu masih tetap mau menolongku? Tapi kenapa kamu jadi berubah? Apakah kamu benar-benar tidak menyukai perasaan lain yang muncul di antara kita? Jika iya, aku bisa kok ngilanginnya. Demi kamu, demi pertemanan kita, aku akan membuang semua perasaan itu. Jika itu yang membuat kamu nyaman, aku tidak akan mengusik-usik lagi tentang rasa itu. Tolonglah! Aku benar-benar merasa bersalah jika kamu menghindariku seperti ini. Lebih baik kamu berkata jujur ma aku jika kamu memang tidak bisa lagi berteman denganku. Jika memang melihatku pun kamu ogah. Jika memang tak ingin aku mengganggumu. Aku kan lakukan itu. Tapi tolong katakan itu secara jujur padaku. Dan satu lagi. Maafkan aku yang telah mengganggumu dengan perasaanku kepadamu. Hanya itu permintaan terakhirku.

Labels: